oleh

1998 KrisMon, 2020 KrisCon

-Berita-288 views

MAMAKOTA,- Pelemahan rupiah dimulai sejak pertengahan Februari lalu. Saat itu memang tekanan terhadap rupiah belum seberapa. Mata uang Garuda masih bisa bertahan di level Rp 14.500. Memasuki Maret, situasi mulai berubah. Apalagi sejak pemerintah mengumumkan pasien positif virus corona pertama. Sejak saat itu, tiap hari, rupiah terus tergerus. Semakin banyak pasien yang terkena virus corona, semakin dalam pula rupiah jatuh.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS makin mengkhawatirkan. Kian hari, kian anjlok. Dalam perdagangan kemarin, rupiah nyaris jatuh ke level Rp16.000 per dolar AS. IHSG pun serupa. Tinggal beberapa poin sebelum jatuh ke jurang 3.000.

Kondisi ini mengingatkan kita pada krisis 1998. Jika di 1998 disebut krismon alias krisis moneter, saat ini pantas disebut kriscon alias krisis corona.

Dalam perdagangan kemarin, rupiah merosot ke level Rp15.929 per dolar AS. Sejumlah bank swasta dan BUMN bahkan sudah menjual dolar di level Rp16.000. Ini adalah posisi rupiah terlemah sejak krismon 1998. Guncangan di pasar saham juga belum reda. Dalam perdagangan kemarin, penjualan saham hanya mampu bertahan 30 menit setelah pembukaan.

Begitu dibuka, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung rontok hingga 5 persen. Otoritas BEI pun langsung menghentikan penjualan. Ini kali ketiga BEI menghentikan penjualan lantaran IHSG anjlok lebih dari 5 persen. Sebelum ditutup, IHSG bertengger di 3.096 atau turun 233,9 poin dibanding sehari sebelumnya.

Pelemahan di pasar saham tak lepas dari wabah virus corona. Sejak awal tahun, aliran modal asing yang keluar sebesar Rp 9,28 triliun. Sementara, di pasar obligasi, sejak akhir 2019 hingga 17 Maret 2020, ter­jadi capital outflow sebesar Rp78,76 triliun. (*/RM)

Komentar

News Feed