oleh

Anggota Dewan Akui Terima Uang Panas untuk Liburan

-Hukum-133 views

Kasus Suap Proyek Meikarta

MAMAKOTA,- Anggota DPRD Kabupaten Bekasi diduga menerima suap terkait pembahasan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) untuk mengakomodasi proyek Meikarta.

Hal itu diungkapkan Neneng Rahmi, mantan Kepala Bidang Penataan Ruang, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang(PUPR) Kabupaten Bekasi. **Baca juga: Menang Lawan Pengusaha Mal, Anies Baswedan Dijuluki ”Goodbener”

Neneng mengungkapkan, Henry Lincoln, Sekretaris Dinas PUPR pernah memberitahu mengenai permintaan uang dari pihak legislatif. Menurut Henry, Wakil Ketua DPRD Mustakim sempat membisiki “pelicin” pembahasan RDTR.

Menyikapi permintaan uang itu, Henry menyuruh Neneng menyediakan uang dan mem­berikannya kepada anggota de­wan. “Alur pemberian uang itu bertahap Rp 200 juta, Rp 300 juta, Rp 200 juta dan Rp 300 juta, total Rp 1 miliar,” ungkap Neneng pada sidang perkara suap per­izinan proyek Meikarta.

Neneng menjelaskan, pembe­rian uang tahap pertama hingga ketiga berasal dari Henry. Neneng mengaku memberikan Rp 300 juta langsung kepada Mustakim. **Baca juga: Pengamat: Hakim Seharusnya Perintahkan JPU Tahan Hasto

Tak hanya itu, anggota DPRD juga diberi fasilitas liburan ke Thailand. Totalnya sebanyak 29 orang yang ikut rombongan pelesiran itu. Biayanya Rp 284.715.000.

Ketua DPRD Kabupaten Bekasi, Sunandar yang dihad­irkan sebagai saksi mengaku pernah menerima uang Rp 75 juta dari Mustakim. “Saya baru tahu setelah KPK memberi tahu terkait uang itu. Makanya saya kembalikan.”

Sementara Mustakim saat dihadirkan di sidang mengaku hanya menerima Rp 300 juta dari Neneng. Ia membantah menerima uang Rp 700 juta yang berasal dari Henry.

Uang dari Neneng lalu dibagi rata empat pimpinan dewan. Masing-masing dapat Rp75 juta. “Saya baru tahu dari penyidik bahwa itu berkaitan dengan Meikarta. Maka saya kembalikan Rp 75 juta dari Bu Neneng Rahmi dan Rp 30 juta perjalanan ke Thailand. Total (dikembalikan) Rp 105 juta.”

Sebanyak 21 anggota dewan yang dihadirkan sebagai saksi mengaku telah mengembali­kan uang ke KPK. Lembaga antirasuah tidak melanjutkan dugaan suap ini. Padahal, da­lam UU Tindak Pidana Korupsi pengembalian uang tidak menghapus pidana. (*/RM)

Komentar

News Feed