oleh

Anies (Baca Tiga Kali)

Bagaimanapun, jabatan Anies Baswedan sekarang adalah gubernur, Gubernur Jakarta. Dialah yang sedang memimpin Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta, ibu kota negara Republik Indonesia. Bisa dibantah?

Siapa pun mafhum, Anies bukan gubernur pertama Jakarta. Sebelumnya, yang terdekat, ada Djarot Saiful Hidayat (tersingkat, hanya empat bulan menjabat), Basuki Tjahaja Purnama, Joko Widodo, Fauzi Bowo, dan Sutiyoso.

Kalaulah ingin menambah satu nama lagi, ya tentu Ali Sadikin, gubernur paling beken dan paling keren yang oleh warga Jakarta disapa Bang Ali. Tercatat hanya dua sapaan ’bang’ yang terkenal (menasional). Selain Bang Ali adalah Bang Buyung (Adnan Buyung Nasution, pengacara). Adapun Bang Toyib, yang sudah tiga lebaran tidak pulang-pulang, itu lain cerita.

Sutiyoso (terakhir menjabat Kepala BIN) tidak mengalami pemilihan gubernur secara langsung. Adapun Fauzi Bowo (wakil gubernur pada masa Sutiyoso) menjadi gubernur setelah menyingkirkan Adang Daradjatun dalam Pilkada Jakarta 2007 (pilkada pertama). Akan tetapi, ia dikalahkan Jokowi dalam Pilkada Jakarta 2012.

Sekarang Jakarta dipimpin oleh Anies, mantan Mendikbud yang dalam Pilkada Jakarta 2017 berpasangan dengan Sandiaga Uno. Dalam Pemilihan Presiden 2019 Sandi menjadi cawapres mendampingi Prabowo Subianto dan kursi wakil gubernur yang ditinggal Sandi kemudian ditempati oleh Riza Patria.

Ini intinya: Beberapa hari lalu ada berita menggembirakan buat warga Jakarta, terutama bagi para pendukung Anies Baswedan, yakni Jakarta mendapat Sustainable Transport Award (STA) 2021 atas program antarmoda transportasi publik yang terus dikembangkan.

Penghargaan itu diumumkan pada Konferensi Transpor Internasional MOBILIZE 2020 yang diselenggarakan secara virtual pada 26, 28, dan 30 Oktober 2020. Dan rupanya sudah menjadi hal yang lumrah dalam panggung politik (dan sesungguhnya juga dalam kehidupan), berkah bagi seseorang merupakan musibah bagi orang lain atau orang-orang lain. Itulah yang terjadi berkaitan dengan penghargaan internasional bidang inovasi pengelolaan antarmoda transportasi publik yang diterima Pemprov Jakarta.

Terjadi polemik. Menurut lawan politik, penghargaan kelas dunia itu untuk Pemprov DKI Jakarta, bukan untuk Anies. Sebagai gubernur, apa yang dilakukan Anies dinilai hanya melanjutkan hasil kerja gubernur-gubernur terdahulu.

Gampang ditebak, ketidakgembiraan (atau kegelisahan) orang-orang yang bukan pendukung Anies itu ada kaitannya dengan Pilpres 2024. Dan, itu hal yang lumrah dalam persaingan merebut kursi kekuasaan, terlebih lagi kursi presiden. Sebab, presidenlah yang menentukan siapa mendapat apa dan berapa, misalnya jatah kursi menteri. Nilai jabatan menteri juga tidak sama. Dan harap maklum, ‘kementerian basah’ selalu menjadi rebutan partai pengusung/pendukung.

Selain urusan STA 2021, Anies juga kini sedang disorot lantaran keputusannya menaikkan Upah Minimum Provinsi 2021. Soalnya, pemerintah pusat sudah memutuskan tidak menaikkan UMP.

Akan halnya kebijakan menetapkan UMP 2021, ada tiga gubernur lain yang juga mengambil jalan berbeda dengan pemerintah pusat, yakni Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indarparawangsa, dan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X. Anies, Ganjar, Khofifah, dan Sri Sultan dinilai sedang mencari jalan untuk menguasai Istana pada 2024. Namun, Anies so pasti beda kelas: ia gubernur ibu kota negara dan (Jakarta) baru mendapat penghargaan internasional pula.

Penutup, ada dua hal penting dalam hidup: berpikir jernih dan berjiwa besar. Dan perlu diingat serta dipahami, dalam dunia politik kedua hal itu sulit ditemukan. Seorang pemikir (maaf, lupa namanya) pernah berkata, “Orang yang berjiwa kerdil itu laksana mikroskop, membesarkan hal-hal yang kecil tapi tidak dapat menerima hal-hal yang besar.”. (usman)

News Feed