oleh

Asep Warlan: Elektabilitas Puan Memang Masih Rendah

-Politik-38 views

Bursa Pemilihan Presiden 2024

MAMAKOTA,- Puan Maharani memiliki banyak modal dibanding politisi lain. Puan pernah jadi anggota DPR, pernah menjadi menteri, menjabat Ketua DPR, menyandang darah biru sebagai putri Megawati Soekarnoputri juga cucu Bung Karno. Namun, di bursa pilpres kenapa elektabilitas Puan versi lembaga survei susah meledak? Pamor Puan jauh di bawah Ganjar Pranowo, politisi PDiP yang sekarang jadi Gubernur Jawa Tengah. Ironisnya lagi, elektabilitas Puan juga disalip politisi bau kencur, Giring Nidji.

Puan pertama kali duduk di parlemen pada 2009-2014. Meskipun bukan pimpinan, jabatan Puan di DPR cukup bergengsi. Dia Ketua Fraksi PDiP yang saat itu memiliki jumlah kursi nomor tiga di DPR.

Selanjutnya, periode 2014-2019, Puan punya pengabdian baru. Dia ditunjuk Presiden Jokowi sebagai Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Sekarang, jabatan Puan tidak kalah bergengsi. Puan yang meraih suara terbanyak secara nasional sebagai calon legislatif, berhak menduduki kursi Ketua DPR untuk lima tahun ke depan.

Di PDIP, jabatan Puan juga bukan kaleng-kaleng. Megawati, Ketum PDIP yang juga ibu kandungnya, memberikan posisi yang strategis. Dalam dua periode kepimpinan, Puan dipercaya menjadi salah satu Ketua DPP PDIP.

Lantas kenapa elektabilitas Puan masih kecil? Sejumlah profesor politik memberikan analisisnya. Profesor politik dari Universitas Parahyangan Bandung, Asep Warlan Yusuf, mengatakan, elektabilitas Puan saat ini memang terbilang rendah. Sejumlah lembaga survei menempatkan elektabiltias Puan masih di bawah dua persen. Beda jauh dengan Ganjar yang di sejumlah lembaga suevei selalu masuk tiga besar dengan elektabilitas di kisaran 15-17 persen. Hasil survei Populi Center yang dirilis kemarin, kurang lebih sama isinya.

Menurut Asep, salah satu alasan elektabilitas Puan masih rendah lantaran Puan kurang berani tampil. Sekalinya muncul di media luas justru di momen yang mendatangkan kritikan. Seperti momen mematikan mik. “Selain di perkara itu, suaranya nyaris belum terdengar,” kata Asep, saat berbincang dengan redaksi tadi malam.

Namun, kalau PDIP serius, Asep menilai elektabilitas Puan masih bisa dikatrol. Apalagi, saat ini Puan punya jabatan yang sangat strategis, sebagai Ketua DPR. Sayangnya, kata Asep, Puan jarang tampil memberikan pandangannya. Padahal sebagai ketua DPR, lanjut dia, Puan punya kesempatan dan momen untuk tampil. Dia yakin dengan sering Puan tampil popularitasnya akan terdongkrak.

Jarangnya Puan tampil, kata Asep terlihat saat mengomentasi isu omnimbus law Undang-Undang Cipta Kerja (Ciptaker). Dalam isu ini, menurut dia, tokoh yang sering tampil justru wakil ketua DPR dan pimpinan Baleg. “Padahal mestinya Puan mengambil alih tema ini sebagai penanggung jawab di DPR,” ujarnya.

Untuk mengkerek elektabiltasnya, Asep menyarankan Puan menjadi negarawan bukan sebatas kader partai. Dengan begitu, Puan bisa beraktualisasi. Atau kalau mau, Puan memegang tongkat kepemimpinan di PDIP yang saat ini masih berada pada Megawati.

Contohnya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang saat ini sudah dipercaya Susilo Bambang Yudhoyono untuk menakhodai Demokrat. Hasilnya, elektabilitas AHY terus menunjukkan trend yang positif. “AHY saat ini sudah mulai bisa lepas dari bayang-bayang SBY dan mulai membentuk ketokohannya,” ungkapnya.

Analisis selanjutnya disampaikan peneliti senior LIPI Prof Siti Zuhro. Menurut Wiwik, sapaan akrabnya, elektabilitas Ganjar bisa melejit lantaran Gubernur Jawa Tengah itu bisa memukau rakyat. Dia menilai, Ganjar benar-benar seorang politisi. Bisa menampakkan diri dekat dengan rakyat bawah dan sangat egaliter. “Rakyat merasa asyik saat berinteraksi dengannya,” kata Siti, kemarin.

Siti mengatakan, persoalan elektabilitas ini erat kaitannya dengan popularitas. Sangat erat kaitannya dengan pandangan masyarakat. Di Indonesia, rakyat sangat senang dengan sosok pemimpin yang merakyat. Mudah diajak bicara, terlihat atensi, empati dan simpatinya. Mesti begitu, Wiwik pilpres masih jauh. Masih empat tahun lagi. Siapa pun masih punya kesempatan untuk tampil.

Sementara Peneliti CSIS Arya Fernandes meyebut elektabilitas Puan belum terkerek karena memiliki sejumlah kendala. “Performanya sebagai pejabat publik belum terlihat. Selain itu belum terlihat ada kebijakan yang menonjol dan inovatif,” ujarnya.

Bagaimana tanggapan PDIP soal ini? Politikus senior PDIP Hendrawan Supratikno tak mempersoalkan soal lembaga survei yang menempatkan elektabilitas Ganjar di deretan puncak, sementara Puan masih rendah. Dia hanya menyampaikan terima kasih kepada lembaga survei yang makin rajin melakukan survei.

Dengan begitu, kata dia, PDIP semakin banyak menerima aliran informasi yang dapat dipelajari dan disimak. “Mengingat ini soal capres yang masih jauh, lembaga survei juga butuh ‘menjaga stamina’ supaya tidak kedodoran,” kata tadi malam.

Dengan begitu, kata dia, PDIP semakin banyak menerima aliran informasi yang dapat dipelajari dan disimak. “Mengingat ini soal capres yang masih jauh, lembaga survey juga butuh ‘menjaga stamina’ supaya tidak kedodoran,” kata Hendrawan, kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.

Menurut Hendrawan, dalam tiga tahun ke depan banyak hal bisa terjadi. “Politik itu dinamis, sehingga end game (permainan akhir) selalu menjadi penentu. Yang tergesa gesa (grusa grusu) hanya mengha-biskan energi.” .

Menurut dia, lembaga survei berlomba-lomba melakukan survei pilpres sebagai bagian dari strategi pemasaran. Bagian dari investasi membangun reputasi dan menarik klien. “Kalau parpol tenang-tenang saja, apalagi partai kami, yang sudah paham dengan seluk beluk dan lika-liku pencapresan.” (usman)

News Feed