oleh

Bang-Bing-Bung, Pak

Titiek Puspa banyak menulis lagu. Salah satu lagunya, lagu anak-anak, adalah tentang perlunya membiasakan diri menabung. “Bangbingbung … bung Kita nabung//Bangbingbung … bang Kita ke bank”, kira-kira begitulah liriknya. Harap maklum, tulisan ini tidak bercerita tentang lagu tersebut, tetapi soal Titiek Puspa ada kelanjutannya.

Boleh jadi, Anda masih ingat nama Bang Ali dan Bang Buyung. Yang pertama adalah Ali Sadikin, gubernur (Jakarta), yang kedua Adnan Buyung Nasution, pengacara. Keduanya beken dan keren. Bang Ali asal Jawa Barat, Bang Buyung dari Sumatera Utara.

Banyak tokoh nasional yang dipanggil bang. Akan tetapi, rasanya hanya Bang Ali dan Bang Buyung-lah yang melekat di hati dan menasional, sedangkan bang-bang yang lain hanya dikenal di kalangan tertentu (dan itu pun dipanggil begitu ’atas permintaan’).

Akan halnya sebutan bung, ada Bung Karno (Soekarno atau Sukarno, presiden pertama RI), Bung Hatta, Bung Tomo yang terkenal dengan pekik “Allahu Akbar!”-nya, dan Bung Sjahrir. Bung-bung yang lain hanya dikenal di lingkungan terbatas, tidak menasional. Misalnya, dulu (tahun 90-an) ada upaya memasyarakatkan sebutan bung untuk seorang politikus ulung, maksudnya mungkin ingin mengubah citra (rebranding) menjadi tokoh yang terlihat egaliter, tetapi upaya itu ternyata tidak bersambut. Sang politikus ulung gagal menjadi ‘Bung’.

Adapun tokoh yang dikenal dengan sebutan pak adalah Pak Dirman (Jenderal Besar Sudirman, panglima besar TNI), Pak Harto (Jenderal Besar Soeharto, presiden kedua, enam periode dan nyaris menjadi presiden seumur hidup), dan Pak Nas (Jenderal Besar Abdul Haris Nasution, tokoh penting TNI, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara). Sejumlah tokoh nasional juga biasa disebut pak, tetapi hanya tiga itu yang terkenal, sulit terlupakan.

Pada masa lampau, nama Pak Kasur (pencipta lagu dan pencinta anak-anak) juga tergolong cukup dikenal. Wajahnya kerap muncul di TVRI.  Yang masih tergolong hangat adalah nama Pak Raden (pemeran dalam serial anak-anak Si Unyil) serta Pak Tile dan Pak Bendot. Dua nama terakhir dikenal masyarakat setelah ikut main di sinetron Si Doel Anak Sekolahan bersama Rano Karno, Benyamin S., dan Mandra.

Berbeda dengan bang dan bung, bing hanya ada satu: Bing Slamet, seniman serbabisa yang bernama asli Ahmad Syech Albar, bapak dari Adi Bing Slamet.  Ia merupakan anggota Grup Lawak Kwartet Jaya. Bersama anggota Kwartet Jaya lainnya, yakni Eddy Sud, Ateng, dan Iskak, Bing Slamet bermain dalam sejumlah film, satu di antaranya adalah Bing Slamet Dukun Palsu.

Bing Slamet sangat dicintai masyarakat, itu pula sebabnya kepergian Bing Slamet untuk selama-lamanya merupakan kabar duka bukan hanya bagi keluarga dan sahabatnya, melainkan juga bagi hampir seluruh bangsa Indonesia. Pada masa itu, masyarakat mengenal Bing Slamet melalui TVRI, satu-satunya stasiun televisi di Tanah Air, serta lewat film yang diputar di gedung bioskop dan layar tancap. Artis Titiek Puspa yang sangat bersedih kemudian menulis lagu tentang Bing Slamet. Dulu, lagu itu sangat populer, piringan hitamnya sering diputar di RRI (stasiun radio milik pemerintah) serta berbagai stasiun radio swasta. Titiek juga kerap menyanyikan sendiri lagu yang dibuat untuk mengenang sahabatnya itu di acara-acara TVRI.

(Sekadar mengingatkan, hanya ada satu mbak yang sangat populer: Mbak Tutut, putri Soeharto. Selama lebih dari 30 tahun, sejak 1970-an, wajahnya selalu muncul di koran dan televisi.)  (Usman Gumanti)

News Feed