oleh

Banyak Bersyukur, Jauhkan Pikiran Negatif

-Berita-181 views

MAMAKOTA,- Bulan ini seharusnya putri kedua saya, yang berusia empat bulan, harus divaksin. Tapi saya dan istri memutuskan menunda. Sampai wabah Covid-19 selesai. Bagi kami, rumah sakit merupakan red zone. Tempat berbahaya tertular virus yang belum ada obatnya ini.

Sehari-hari pun, saya dan keluarga menerapkan hidup sehat. Berjemur, berolah raga secukupnya, tidak merokok dan minum alkohol. Juga makan-makanan sehat. Tahu, tempe, dan sayur-sayuran setiap hari. Pola ini sangat kami jaga. Demi menghindari rumah sakit.

Beruntung, putri pertama saya bisa nurut. Tidak uring-uringan minta keluar rumah ataupun merasa bosan. Dia juga tidak ngambek minta makan aneh-aneh. Yang penting ada susu strawberi dan coklat, sudah membuatnya senang. Walau masih balita, dia paham Covid- 19 berbahaya. Dia paham, untuk sekarang ini dia tidak boleh sakit.

Oh iya, saya dan istri juga menerapkan anjuran pemerintah dan kebijakan kantor. Yakni bekerja dari rumah. Aktivitas saya pun hanya pengulangan. Pagi-pagi mengejar deadline. Kemudian bergantian menjaga anak-anak. Berjemur. Berolah raga ringan memanfaatkan ruang yang sempit. Begitu terus setiap hari selama sebulan ini. Bosan? Pasti. Tapi saya memilih sehat.

Karena itulah saya sangat bersyukur. Kantor tidak rewel. Keluarga juga. Walau tidak banyak, Alhamdulillah gaji saya dan istri cukup untuk sebulan.

Salut saya kepada mereka yang sehari-hari harus tetap bekerja keluar rumah. Seperti tenaga media, Ojol, pedagang sembako yang setiap hari mengantar pesanan ke rumah. Penjual jamu gendong keliling. Saya yakin, kalau mereka bisa bekerja dari rumah, mereka bakal menerapkannya.

Seperti yang saya tulis sebelumnya. Saya sudah meng-unfollow hoax. Sangat minim membuka medsos kecuali Pinterest dan Instagram. Itu pun hanya foto-foto indah. Lumayan efektif untuk mengurangi kebosanan.

Tapi, kalau grup Whatapps, saya masih bergabung. Bukan hanya yang baik-baik, tapi juga yang isinya umpatan. Sebagai penyeimbang juga sih. Tapi dari grup ini saya jadi tahu. Bahwa, bersyukur dalam situasi seperti ini sangat penting. Lebih melihat yang baik-baik daripada yang negatif.

Sebab, kalau bicara kurang, tidak ada habisnya. Gaji kurang, makan kurang, bahagia kurang. Bagi yang serba kurang ini, mungkin kurang melihat dunia luar. Kurang melihat Ojol yang setiap hari harus keluar rumah supaya dapur tetap ngebul. Bahkan kurang percaya diri.

Saya jadi ingat sebuah hadis. “Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan janganlah melihat orang yang ada di atas kalian karena hal itu lebih layak membuat kalian tidak mengkufuri nikmat Allah atas kalian”. Semoga wabah ini cepat berlalu, dan kita bisa melewatinya dengan bersyukur dengan apa yang kita miliki, bukan kita maui. (*)

Catatan: Marula Sardi (Wartawan Rakyat Merdeka)

News Feed