oleh

BI Cetak Rp 600 Triliun, Ekonomi Indonesia Bisa Kiamat

-Berita-148 views

Puyuono Komentari Usulan Banggar DPR

MAMAKOTA,- Usulan pencetakan uang hingga Rp 600 triliun yang diajukan Banggar DPR dinilai justru akan makin menekan perekonomian Indonesia. Dibutuhkan sistem pengawasan yang kuat dan ketat agar dana superbesar itu tidak disalahgunakan.

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Arief Poyuono mengemukan hal itu kepada wartawan, Rabu (5/5). Dia mengingatkan, pencetakan uang Rp 600 triliun berpotensi menjadi BLBI jilid kedua.

“Atau jangan-jangan jualannya Bu Menkeu berupa global bond dalam denominasi mata uang asing kagak ada yang beli kali ya, atau cuma sedikit yang beli. Jadi ya satu-satu nya jalan ya cetak rupiah,” ucap Arief dalam keterangannya, Rabu (6/5). “It’s okay sih cetak uang rupiah sebanyak itu oleh BI, tapi kalau pengawasan dan pengendalian tidak bagus maka akan jadi kiamat ekonomi Indonesia.”

Pengawasan ini harus ketat dilakukan pemerintah. Jangan sampai suntikan dana kepada sejumlah pengusaha dan bank yang mengaku usahanya hancur akibat Covid-19, disalahgunakan oleh mereka. Misalnya, tambah Arief, begitu dapet dana langsung ditukarkan dengan mata uang dolar AS dan dolar Singapura. Kemudian disimpan di luar negeri dan habis itu menyatakan bangkrut dan menyerahkan aset-aset sampah ke pemerintah.

“Memang dengan tren adanya Modern Monetary Theory yang sangat ramai menjadi diskusi para ekonom dunia. Salah satu anjuran teori itu adalah jika sisi pengeluaran negara defisit maka caranya ya cetak duit, dengan pemerintah menerbitkan Surat Utang Negara dan dibeli oleh Bank Indonesi,” ujarnya.

Namun, agar pencetakan uang tidak menimbulkan inflasi, syaratnya ekonomi negara tersebut harus full employment, uang yang dicetak digunakan untuk belanja fasilitas-fasilitas kesehatan gratis bagi masyarakat, pendidikan gratis, pembangunan infrastruktur pangan untuk menggerakkan pembukaan lahan sawah baru dan infrastruktur lainnya oleh pemerintah.

Arief menambahkan, jika mencetak uang hanya untuk menalangi para konglomerat dan perusahaannya serta bank-bank swasta yang memang performance keuangan sudah negatif sebelum ada wabah Covid-19, yang bisa terjadi malah pengulangan krisis 98, bahkan mungkin lebih parah lagi. “Jadi nyetak duit boleh saja, enggak jadi masalah. Tapi kalau ilmu silat enggak bener yang ada rontok sistem moneter kita.” (*/UG)

Komentar

News Feed