oleh

Biden Jadi Presiden, Prabowo Pede Leluasa ke AS

-Politik-35 views

MAMAKOTA,- Kurang dari sebulan sebelum Joe Biden dinyatakan sebagai presiden terpilih, Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto bisa menghirup udara Amerika Serikat. Dia bisa menginjak bumi negeri adidaya yang selama puluhan tahun tak memberikan visa kepadanya. Apakah setelah Donald Trump terjungkal Prabowo masih akan diperlakukan istimewa oleh Amerika atau Prabowo harus mulai lagi dari nol?

Kepemimpinan Biden tentu akan jauh berbeda dengan Trump. Background partainya saja beda. Trump dari Partai Republik, sedangkan Biden dari Partai Demokrat. Dua partai yang selama ini selalu memiliki gaya berlawanan.

Selama ini, presiden yang diusung Partai Republik tidak terlalu memikirkan soal kasus HAM. Berbeda dengan Presiden AS yang berasal dari Partai Demokrat. Masalah pelanggaran HAM, selalu jadi fokus dari presiden yang berasal dari Demokrat.

Biden yang berasal dari Demokrat, tentu juga akan melakukan ini.Prabowo selama berpuluh-puluh tahun, tidak bisa masuk ke negeri adidaya itu. Permohonan visa yang diajukan eks Danjen Kopasus itu selalu ditolak. Alasan AS, Prabowo terlibat dalam sejumlah kasus HAM di Tanah Air. Barulah di akhir masa kepemimpinan Presiden Trump, keputusan itu dicabut.

Prabowo yang menjabat sebagai Menhan diundang langsung datang ke AS, bulan lalu. Apakah akan ada perubahan di masa Biden? Guru besar Hukum Internasional Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana menilai cara pandang Pemerintah AS terkait isu-isu HAM tidak akan sekaku dulu. Termasuk oleh Biden maupun Partai Demokrat.

Menurut dia, beberapa jenderal memang pernah dipanggil ke pengadilan ketika tiba di Amerika lantaran dugaan pelanggaran HAM masa lalu. Antara lain, Sintong Panjaitan pada 1994 dan Johny Lumintang pada 2001.

Kondisi saat ini berbeda. Amerika, kata Hikmahanto, punya kepentingan besar terhadap Indonesia. Mereka terdesak, karena melawan hegemoni China yang kini semakin gencar melebarkan sayap, khususnya di Asia Pasifik. Ia berkeyakinan diplomasi pertahanan yang sudah dibangun Prabowo dengan Amerika di era Trump, tinggal dilanjutkan.

Prabowo akan tetap diistimewakan oleh Amerika. “Karena membangun pertahanan dengan Indonesia adalah kepentingan AS,” kata Hikmahanto kepada redaksi tadi malam. Menurutnya, negara adidaya itu sangat khawatir jika Indonesia jatuh ke tangan Cina. “Bahkan China meminta dibangunkan pangkalan militer.”

Rektor Universitas Jenderal Achmad Yani ini bilang, besar kemungkinan Demokrat akan berkompromi terhadap isu HAM yang melekat pada Prabowo. Beda dengan dulu. Ketika, untuk mendapatkan visa masuk ke AS saja, Prabowo selalu ditolak.Jika pun ada pertentangan dari Demokrat, diyakini akan sebatas antara politisi dengan birokrat AS saja.

“Bisa jadi. Karena dulu kan China belum sekuat sekarang. Dulu AS yang paling tahu soal HAM dan lainnya,” tandasnya.

Pengamat Politik Internasioal Arya Sandhiyudha punya analisis yang sama. Kata dia, sosok Prabowo di mata Amerika pada masa lalu, berbeda dengan sekarang. Prabowo sekarang merepresentasikan dirinya sebagai pemerintah. Perpanjangan tangan dari Presiden Jokowi. Jadi, tidak ada alasan bagi Amerika untuk tidak menghormati dan mengistimewakan Prabowo.

“Nggak bisa lagi dipandang sebagai pribadi,” kata Arya, kemarin.

Trump saja, lanjut dia, yang selama kepemimpinannya dikenal isolasionisme dan tidak lazim mengutus pejabat penting ke Indonesia, harus mengubah cara pandangnya. Meskipun terlambat.“Karena untuk menghadapi Cina, AS perlu diplomasi pertahanan. Sangat tidak menguntungkan kalau AS saat ini mempermasalahkan masa lalu seseorang (Prabowo) yang sekarang dianggap sebagai respresentasi negara.”

Apa tanggapan orang Gerindra? Yang jelas, Juru bicara Menhan Dahnil Anzar Simanjuntak menyambut baik terpilihnya Biden sebagai Presiden Amerika. Oke-oke saja. Meskipun di ketahui, Biden berlatar belakang berbeda dengan Trump. Demikian pula sikap politiknya.

“Kita tentu mengucapkan selamat kepada Biden dan Kamala,” kata Dahnil kepada, kemarin.

Ia tidak menyiratkan ada kekhawatiran akan terganggunya hubungan baik Indonesia – AS yang sudah dibangun Prabowo di era Presiden Trump. Khususnya dalam hal diplomasi pertahanan. “Kita berharap hubungan bilateral antara AS dan Indonesia semakin kuat.”

Namun, Dahnil tidak menjawab apakah Menhan akan kembali melakukan kunjungan ulang ke Amerika, ketika kabinet Biden terbentuk. Yang jelas, ia memastikan hubungan bilateral yang sudah dibangun di era Trump tinggal dilanjutkan. Tak perlu dimulai dari nol lagi.

“Tinggal melanjutkan kerja sama bilateral bidang pertahanan yang selama ini sudah dilakukan,” tambah mantan Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah itu.

Hal senada juga disampaikan politisi Gerindra Andre Rosiade. Menurutnya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan atas pergantian rezim di AS. Sebab, hubungan yang dibangun Prabowo, khususnya dalam hal diplomasi pertahanan adalah representasi pemerintah, bukan personal.

“Hubungannya kan G-to-G (government to government) ya. Siapa pun Presiden Amerika, tentu hubungan pemerintah Indonesia dengan Amerika akan semakin baik ke depannya,” ujar Andre.

Lagi pula, lanjut dia, kekhawatiran akan rekam jejak Prabowo terkait dugaan pelanggaran HAM di masa lalu akan menjadi batu sandungan, sangat tidak beralasan. Meskipun Biden dan partai yang membesarkannya itu diketahui sangat concern terhadap isu-isu hak asasi manusia.

“Karena sekali lagi, Pak Prabowo tidak bersalah dan proses pengadilan militer sudah berjalan dan terbukti tidak bersalah. Makanya beliau bisa mencalonkan diri sebagai presiden,” tegasnya. (usman)

News Feed