oleh

Bisik-bisik Ibadah di Masa Wabah

-Berita-141 views

MAMAKOTA,- Penerapan pembatasan sosial berskala besar atau PSBB di Jakarta akhirnya diperpanjang dari 22 Mei hingga 4 Juni 2020.

Tentang hal itu, beberapa hari lalu Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meminta warga bersabar dua pekan lagi menjalani masa-masa sulit menghadapi pandemi Covid-19. Setelah 4 Juni nanti, kata dia, insyaallah warga Jakarta dapat memasuki kehidupan ‘new normal’ (normal baru).

Dalam kesempatan itu pula Anies kembali mengimbau warga Jakarta untuk tidak mudik. Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini juga mengingatkan warga tetap menjalankan ibadah di rumah, termasuk ibadah salat Idulfitri tahun ini, tidak melakukan takbir keliling, serta bersilaturahmi dengan tetap menjaga jarak dan mengenakan masker.

Sebelum keluar pengumuman tentang perpanjangan PSBB itu, hampir seluruh umat Islam Ibu Kota berharap PSBB di Jakarta berakhir pada 22 Mei sehingga salat Idulfitri dapat dilakukan seperti biasa, yakni di masjid dan lapangan. Maka, ketika Anies menyatakan PSBB Jakarta diperpanjang sampai dengan 4 Juni, pupus pula harapan. Kecewa, bingung, dan patah semangat, campur aduk.

Malam menjelang Idulfitri bisik-bisik pun terjadi di antara warga Jakarta yang bertetangga di kawasan Cibubur, Jakarta Timur. Mereka membicarakan kemungkinan melaksanakan salat Idulfitri di masjid atau musala. Persiapan dilakukan diam-diam, tempatnya di musala berlantai dua yang berkapasitas dua ratusan orang dan tidak pernah digunakan sebagai tempat pelaksanaan salat Idulfitri atau Iduladha.

Pada hari-H, Minggu, 24 Mei, pukul enam pagi, warga mulai berdatangan di musala itu. Berbeda dari biasanya, kali ini saf antar-anggota jemaah justru direnggangkan sekira enam puluh sentimeter. Khotib diambil seketemunya, dari kalangan warga sendiri, yang jangankan menjadi khotib salat Idulfitri (atau Iduladha), tampil khotbah di salat Jumat pun dia tidak pernah. Tiada rotan, akar pun jadi, kira-kira begitulah prinsip pengurus musala.

Pemandangan yang tidak pernah terbayangkan pun kini terjadi: Ketika warganya bergerak ke musala, Ketua RT hanya berdiri di teras rumahnya sembari memegang masker kain. Dia memberikan masker itu kepada yang belum mengenakan masker. Dia bilang, sebagai Ketua RT dia tidak dapat melaksanakan salat Id di musala.

”Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa,” katanya kemudian.

Keputusan ketua RT yang satu ini sungguh dapat dipahami: dia berpegang teguh pada aturan. (*/UG)

Komentar

News Feed