oleh

Dipuji, Keterlibatan BIN Perangi Covid-19

-Berita-8 views

JAKARTA,- Anggota Komisi I DPR Dave Akbarshah Laksono mendukung keikutsertaan Badan Intelijen Negara (BIN) dalam penanganan Covid-19 di berbagai daerah. BIN terlibat melalui operasi medical intelligence untuk menanggulangi penyebaran virus yang pertama kali ditemukan di Wuhan, Cina, ini. Medical intelligence ini, ujarnya, merupakan terobosan untuk mengatasi masalah ketahanan nasional. Apalagi, masalah Covid-19 ini menurutnya juga menjadi isu politik.

Makanya, lanjut Dave, keterlibatan BIN ini untuk lebih memastikan segala isu yang beredar di masyarakat. Dengan demikian, situasi pandemi Covid-19 ini bisa tertangani dengan baik.

“Apalagi, BIN memiliki personel dan operasional yang lebih rata di seluruh Indonesia,” katanya di Jakarta, kemarin.

Dave melihat, terobosan dan kebijakan yang diambil BIN dalam penanggulangan dan penanganan Covid-19 sudah tepat. Bahkan, sesuai dengan tugas, pokok dan fungsinya yang digariskan oleh Undang-Undang. Sejauh ini, ujarnya, BIN mampu menjalankan peran penting mendukung upaya tenaga medis dan kesehatan dalam mencegah jatuhnya korban lebih banyak lagi karena Covid-19.

“BIN mampu memberikan dukungan kepada tenaga medis kita. Jadi bisa saling mem-backup. Walau penanganan Covid-19 itu tetap dilakukan tenaga medis. (BIN) Ini lebih menyiapkan tempat pengetesan, monitoring juga yang terinfeksi,” jelasnya.

Putra politikus senior Agung Laksono ini berharap, BIN bisa lebih berperan aktif dalam melakukan tracing dan monitoring Covid-19. Langkah ini menurutnya cukup penting, mengingat tingkat tes Covid-19 ini jumlahnya masih jauh di bawah harapan. Karena itu, BIN juga diminta lebih aktif meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan.

“Mungkin BIN bisa lebih agresif mengajak masyarakat melakukan tes Covid-19. Tapi tentunya dengan pendekatan yang lebih humanis. Bukan memaksa orang datang untuk testing,” tambah dia.

Sebelumnya, peneliti Kajian Strategis Intelijen Universitas Indonesia (UI) Ridlwan Habib mengatakan, BIN mempunyai kewajiban ikut mengatasi pandemi ini, menyelamatkan masyarakat dari Covid-19. Ini sebagai tindak lanjut amanat dari Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2011 tentang Intelijen.

“Sesuai tugas pokok BIN sebagai lini depan pertahanan nasional, lembaga itu boleh membuat Satuan Tugas Penanganan Covid-19. Aturan ini terkait Pasal 30 dalam Undang-Undang Intelijen, di mana satgas tentunya berkualifikasi medis dan sesuai dengan bentuk ancaman,” katanya.

Ridlwan mengatakan, pandemi Covid-19 ini merupakan ancaman nasional yang tidak saja mengancam nyawa manusia, namun juga berdampak luas dari sisi ekonomi, politik, dan hubungan internasional. Di Amerika Serikat saja, ada National Centre for Medical Intelligence (NCMI) yang bekerja di bawah Defense Intelligence Agency atau Intelijen Kementerian Pertahanan yang juga sedang mati-matian melawan pandemi Covid-19 di AS.

“Jadi, jangan memahami definisi ancaman secara sempit. Seolah intelijen hanya boleh mengurusi penjahat dan teroris. Itu pandangan yang sempit, kuno, dan ketinggalan zaman,” ujarnya.

Soal perbedaan hasil tes swab, menurut Ridlwan, sangat mungkin terjadi, karena perbedaan alat maupun standar pengukuran load virus. “Jika seseorang diperiksa pada hari Senin masih positif, lalu hasil tes di hari Selasa sudah negatif, artinya ada waktu 24 jam yang menentukan kadar sisa virus atau load virus, yang dalam istilah medis disebut Ct,” katanya.

Terkait tindakan BIN yang memperbanyak tes swab dan pelacakan, menurut Ridlwan, sejalan dengan ide kalangan lembaga swadaya masyarakat dan aktivis kesehatan, yang selama ini mendesak pemerintah memperbanyak tes. “Prinsip intelijen harus bisa mengatasi ancaman apapun di masa depan, yang membahayakan keselamatan masyarakat luas. Upaya ini semestinya didukung. Bukan justru disalahkan.” (Red/*)

Komentar

News Feed