oleh

Dua Anggota KPU Dipecat, Kepercayaan Publik Mulai Goyah

-Hukum-171 views

MAMAKOTA,- Pemecatan dua anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) oleh Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) menjadi lampu kuning bagi KPU ke depan. Jika tidak ada pembenahan, bisa berpengaruh terhadap kepercayaan publik.

Kedua komisioner yang dipecat DKPP adalah Evi Novida Ginting Manik dan Wahyu Setiawan. Evi terbukti melanggar kode etik sebagai penyelenggara pemilu dalam Pileg DPRD Kalimantan Barat.

Sebelum Evi, DKPP mencopot Wahyu lantaran ditangkap dan ditetapkan KPK sebagai tersangka penerima suap dari caleg PDIP, Harun Masiku terkait proses PAW anggota DPR. Wasekjen Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Jojo Rohi mengatakan pemecatan terhadap Evi dan Wahyu tentu akan mempengaruhi kepercayaan publik terhadap integritas KPU.

Padahal, KPU periode 20172022 masih memiliki sejumlah pekerjaan penting. Salah satunya menjalankan tahapan Pilkada 2020, meski berpotensi bakal diundur lantaran pandemi virus corona atau Covid-19.

“Jika hilang kepercayaan publik berarti jembatan harapan itu sudah rusak, bila tak boleh dibilang runtuh. Maka upaya bersama-sama untuk membangun ‘jembatan harapan’ itu menjadi agenda yang mendesak untuk segera dilakukan,” kata Jojo Rohi.

Jojo menyatakan, persoalan kepercayaan merupakan isu paling krusial dari Pemilu ke Pemilu di Indonesia. Hal ini yang mendorong dibentuknya dua lembaga selain KPU dalam rezim penyelenggara Pemilu, yakni Bawaslu dan DKPP.

“Semua itu landasan basic-nya adalah untuk membangun kepercayaan publik terhadap politic electoral kita,” katanya.

Menurutnya, pemecatan terhadap Evi dan Wahyu sebagai Komisioner KPU, dan juga pemecatan terhadap sejumlah Komisioner KPU dan Bawaslu di level Provinsi, Kabupaten/ Kota oleh DKPP dapat dimaknai bakal melemahkan kepercayaan publik.

Di sisi lain, pemecatan para komisioner penyelenggara pemilu ini juga dapat dimaknai berjalan dengan baiknya proses kontrol terhadap penyelenggara Pemilu. (*/RM)

News Feed