oleh

Dua Tahun Lebih Pak ET Menepi

Wawancara Imajiner dengan Mantan Koruptor (2-Habis)

Kami tertawa. Dia menepuk-nepuk bahuku. Dan aku tidak merasa perlu mendesak Pak ET soal biaya hidup Jelita Sekali yang harus dia tanggung.

“Ayo, makanlah,” katanya berusaha mencairkan suasana.

Kupanggil pelayan.

“Itu saja? Pesan lagilah yang lain,” ujarnya.

”Cukup, Pak. Ngomong-ngomong, Bapak masih suka main tenis?”

”Ya, seminggu sekalilah ….”

“Di tempat biasa?”

“Ya masih di situ. Minggu depan, temanilah saya main ….”

“Siap, Pak. Sering menang apa sering kalah, Pak?”

“Sering menanglah …. Tapi, saya ‘kan bukan cari menang, biar sehat saja. Yang penting happy.”

”Betul itu, Pak.”

Kemudian dia bertanya tentang pekerjaanku, tentang keluargaku, dan tentang teman-temanku yang juga dikenalnya. Pak ET kupikir memang seorang yang gampang akrab, hangat.

Temannya banyak, dari berbagai kalangan.

Setelah keluar dari penjara pada dua tahun lalu, dia selalu menghindar untuk kutemui. Beberapa kali kutelepon serta ku-WA, dia hanya menjawab, “Nanti sajalah. Sekarang saya mau istirahat dulu, menikmati hidup.”

Lebih dari dua tahun, setelah menghirup udara bebas lagi, dia keliling Indonesia dan sesekali ke luar negeri. Begitulah cara dia menenangkan diri, menepi dari keramaian (orang-orang yang dikenalnya) untuk mencari makna hidup.

Sebelum masuk penjara karena kasus korupsi, Pak ET kukenal seorang yang murah hati. Siapa saja yang membutuhkan, dia bantu.

”Kamu tahu ‘kan, banyak teman yang datang ke kantor. Ngobrol. Kalau saya tahu dia perlu dibantu, ya sebisanya saya bantu,” katanya sekira satu bulan sebelum namanya disebut-sebut terlibat kasus korupsi.

Dia bilang, selain kerabat dekat, banyak juga orang di kantornya yang dia bantu, termasuk atasannya. Dia bilang, apa salahnya membantu orang yang sedang susah. Sekarang, setelah dia keluar dari penjara, tetap masih ada yang menemuinya. Ada yang sekadar ingin ngobrol, ada yang curhat dan tidak merasa perlu dibantu keuangan, ada pula yang memang benar-benar berharap bantuan keuangan. Beberapa temanku tampaknya menghindar bertemu dengan Pak ET, dengan alasan masing-masing, dengan pertimbangan mereka sendiri-sendiri. (Usman Gumanti) 

News Feed