oleh

Edhy Prabowo Minta Maaf ke Empat Pihak

-Hukum-51 views

Kasusnya Rusak Pencapresan Prabowo

MAMAKOTA,- Penangkapan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo oleh KPK terkait lobster-gate diyakini tak hanya mencoreng dan merontokkan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto di pasar Pilpres 2024 tapi juga berimbas ke Gerindra. Soalnya, Edhy adalah Wakil Ketua Umum Gerindra serta orang terdekat Prabowo. Dia dibesarkan Prabowo.

Berbagai pidato Prabowo soal integritas, antikorupsi, diungkit-ungkit warganet. Pernyataan keras Prabowo yang akan memenjarakan kadernya jika korupsi, langsung bertebaran di dunia maya. Semua ini, adalah satire. Ledekan, juga ejekan. Tragisnya, suara-suara seperti ini tak hanya dibunyikan oleh “orang luar”, tapi ada juga kader Gerindra sendiri yang masuk barisan ini.

Edhy ditangkap tim KPK di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, dini hari kemarin. Ketika itu, baru saja turun dari pesawat yang membawanya dari Jepang, ketika tim komisi antirasuah yang dipimpin tiga kepala satuan tugas, salah satunya Novel Baswedan itu, mengadangnya. Sebelumnya, dia melakukan kunjungan kerja ke Honolulu, Hawaii, Amerika.

Dalam foto-foto yang beredar, Edhy terlihat masih jetlag, duduk di sebuah kursi di Bandara Soekarno-Hatta, saat akan ditangkap tim KPK. Namun, tim KPK tak memberi “ampun”. Edhy langsung digelandang ke Kantor KPK di Kuningan, Jakarta Selatan.

Edhy tak dicokok sendirian. Ada 16 orang lainnya dalam rombongan itu, yang dibawa ke markas Firli Bahuri Cs. Salah satunya, istri Edhy, Iis Rosita Dewi, yang juga anggota Komisi V DPR.

Tepat pukul 23.30, Edhy diperlihatkan KPK ke publik. Dia keluar dengan tangan diborgol dan dipakaikan rompi oranye. Wajahnya, meski sebagian tertutup masker, terlihat lesu. Sepanjang konferensi pers KPK, Edhy hanya menunduk.

Dari 17 yang diamankan, lima orang, termasuk Edhy, ditetapkan jadi tersangka. Empat tersangka lainnya adalah stafsus Edhy, Safri; staf Iis, Ainul Faqih; Pengurus PT Aero Citra Kargo, Siswadi; dan Direktur PT Dua Putra Perkasa, Suharjito. Di luar yang ditangkap, KPK menetapkan dua tersangka lagi, yakni Stafsus Menteri KKP Andreau Pribadi Misanta, dan Amiril Mukminin. Sedangkan Iis, dilepas.

Edhy disangkakan menerima suap dari Suharjito. Suap itu terkait perizinan ekspor benur lobster.

“Dari hasil tangkap tangan tersebut ditemukan ATM BNI atas nama AF, tas LV (Louis Vuitton), tas Hermes, baju Old Navy, jam Rolex, jam Jacob & Co, tas koper Tumi dan Tas Koper LV,” ungkap  Wakil Ketua KPK Nawawi Pomolango dalam konferensi pers di lantai 3 Gedung Penunjang KPK, tadi malam.

Barang-barang itu dibeli Edhy dan istrinya saat berada Honolulu AS dari tanggal 21 sampai dengan 23 November. Jumlah total belanjaannya sekitar Rp 750 juta. Edhy juga membeli sepeda merk Specialized.

Edhy dan empat orang tersangka lainnya ditahan di rutan KPK. Sementara dua orang lainnya diminta untuk menyerahkan diri.

Usai konferensi pers KPK, Edhy Prabowo berani menghadapi wartawan. Dia meminta maaf. Pertama, ke Presiden Jokowi. Kedua, ke Prabowo Subianto. “Saya minta maaf kepada Bapak Presiden, saya telah mengkhianati kepercayaan beliau. Minta maaf ke Pak Prabowo Subianto, guru saya, yang sudah mengajarkan banyak hal.”

Ketiga, kepada ibunya. Keempat, kepada masyarakat. “Seolah-olah saya pencitraan di depan umum. Itu tidak, itu semangat. Ini adalah kecelakaan yang terjadi,” ucapnya. Dia menyatakan akan bertanggung jawab dan tidak akan lari. Edhy berjanji akan membeberkan tentang kasus ini.

Terakhir, Edhy meminta maaf kepada partainya, Gerindra. Dia menyatakan akan mengundurkan diri dari jabatan kepartaian. Edhy juga pamit sebagai menteri. “Saya bertanggung jawab penuh dan saya akan hadapi dengan jiwa besar,” ucapnya, berusaha tegar.

Penangkapan Edhy ini dianggap mencoreng Prabowo. Arief Poyuono, anak buah Prabowo di Gerindra, memprediksi, elektabilitas bosnya akan nyungsep.

“Dengan ditangkapnya Edhy Prabowo, maka tamat sudah cita-cita Prabowo jadi Presiden Indonesia,” ucap Poyuono, kemarin.

Tak cuma Prabowo, Poyuono yakin, Gerindra juga akan kena getahnya. Karena itu, dia mendesak Prabowo mundur dari jabatannya sebagai Ketum Gerindra dan Menteri Pertahanan. Soalnya, Prabowo berulang kali mengatakan, korupsi di Indonesia sudah memasuki level yang mengkhawatirkan. Stadium empat. “Tapi, justru Edhy Prabowo, anak buahnya dan asli didikan Prabowo sendiri yang menjadi menteri pertama di era Jokowi yang terkena operasi tangkap tangan,” sindir Poyuono.

Mantan politisi Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean, juga menilai Prabowo akan dirugikan dengan penangkapan Edhy ini. “Secara politik, Prabowo Subianto jadi pihak yang sangat dirugikan atas penangkapan Eddy Prabowo. Pertanyaannya, siapa yang diuntungkan secara politik? Strategi yang manis!” kata Ferdinand.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) Ujang Komarudin punya pandangan sama. “Ini tentu akan mencoreng nama Prabowo yang sedang siap-siap maju kembali di Pilpres 2024,” ujar Ujang, tadi malam.

Apalagi, yang ditangkap tak sekadar kader biasa. Tapi orang dekat Prabowo yang juga menjadi salah satu pilar Gerindra. Peristiwa ini bisa dijadikan amunisi bagi lawan-lawan politik untuk menyerang Prabowo. Sebelum ditangkap pun, Edhy sudah jadi bulan-bulanan publik karena kebijakannya membuka ekspor benur lobster.

Luhut Menteri KKP Ad interim

Istana bergerak cepat usai penangkapan ini. Untuk mengisi kekosongan jabatan, Istana menunjuk Menko Kemaritiman dan Investasi (Marves), Luhut Binsar Pandjaitan, sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Ad Interim.

“Dalam rangka efektivitas pelaksanaan tugas dan fungsi KKP, maka Menteri Sekretaris Negara telah mengeluarkan surat penunjukan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan Ad Interim,” ujar Sekjen KKP, Antam Novambar, lewat surat edaran Nomor: B-835/SJ/XI/2020 yang dikeluarkan, kemarin.

Selama ini, pelaksanaan tugas pokok dan fungsi KKP memang berada di bawah koordinasi Luhut. Jubir Kemenko Marves, Jodi Mahardi, membenarkan hal itu. Dia menerangkan, Luhut telah menerima surat dari Mensesneg. “Surat itu menyampaikan, berkaitan dengan proses pemeriksaan oleh KPK terhadap Menteri KKP, maka Presiden berkenan menunjuk Menko Kemaritiman dan Investasi sebagai Menteri KKP ad interim,” tutur Jodi, semalam. (red/usman)

News Feed