oleh

Gubernur BI Akui, Pemulihan Ekonomi Tertahan Korona

-Berita-139 views

MAMAKOTA,- Pertumbuhan ekonomi nasional pada 2020 dipastikan bakal tertahan akibat meluasnya penyebaran virus korona.Hal tersebut diungkapkan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dalam keterangannya di Jakarta, kemarin.

Perry menjamin, pemerintah, Bank Indonesia, dan otoritas terkait akan terus memperkuat sinergi kebijakan.

“Sinergi ini untuk memonitor dinamika penyebaran Covid-19, termasuk dampaknya terhadap perekonomian Indonesia. Kami memprakirakan perekonomian Indonesia di 2020 tertahan, kemudian kembali meningkat pada 2021 dan menguat dalam jangka menengah,” ujar Perry.

Perry melanjutkan, pada awalnya virus corona ini terjadi di Cina, dan kemudian menyebar ke banyak negara termasuk Indonesia. Sehingga menjadi pandemik global.

Dalam kondisini berbagai langkah kebijakan akan ditempuh guna menjaga tetap kondusifnya aktivitas perekonomian. Sehingga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan tetap terjaga.

“Serta momentum pertumbuhan ekonomi dapat dipertahankan,” ujarnya.

Prospek tersebut, menurut Ferry, ditopang oleh tiga elemen penting yakni sinergi, transformasi, dan inovasi. Karena itu, sinergi kebijakan BI, pemerintah, dan otoritas terkait akan terus diperkuat dan menjadi unsur sangat penting untuk menjaga ketahanan dan mendorong momentum pertumbuhan ekonomi.

Menurut dia, sinergi yang tepat akan mendukung percepatan transformasi ekonomi, yang ditopang berbagai sumber pertumbuhan ekonomi baru.Termasuk melalui penguatan sektor- sektor unggulan. Seperti manufaktur dan pariwisata, serta pengembangan ekonomi syariah. Transformasi ekonomi tersebut, juga berkaitan dengan berbagai upaya untuk terus menumbuh-kembangkan inovasi ekonomi-keuangan digital sehingga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan inklusif.

“Dengan berbagai upaya yang kita jalankan ini, kita optimis Indonesia akan menjadi negara maju pada tahun 2045 mendatang,” ujar Perry.

Meski begitu, lanjut Perry, akibat mewabahnya virus korona di Indonesia, konsumsi pemerintah tahun ini diprediksi tumbuh 2,1-2,5 persen.

Angka ini melesat jika dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya tumbuh 0,48 persen.Anggaran yang dikeluarkan pemerintah itu juga untuk menstimulus perekonomian, terutama untuk meningkatkan daya tahan yang terdampak korona, menjaga daya beli masyarakat, serta memelihara keberlanjutan dunia usaha.

“Kebijakan ini kemudian mendorong kementerian dan lembaga serta pemda melakukan akselerasi belanja, terutama triwulan I-2020 sebagai langkah untuk mengurangi tekanan pertumbuhan ekonomi akibat Covid-19,” jelasnya.

Dalam laporan perekonomian yang dirilis kemarin, BI menilai virus korona berdampak pada berkurangnya permintaan tenaga kerja dan tertahannya pendapatan serta konsumsi, sehingga mengurangi permintaan domestik.

“Terbatasnya kegiatan produksi dan aktivitas ekonomi di negara yang terdampak Covid-19, termasuk Indonesia, diakibatkan terbatasnya pasokan barang dari negara lain untuk keperluan produksi dan pembatasan aktivitas ekonomi untuk pencegahan penyebaran Covid-19,” tulis BI.

Kegiatan ekspor dan impor juga diperkirakan menurun di tahun ini. Ekspor diprediksi menurun hingga 5,6 persen dan impor turun lebih dalam, yakni hingga 9,3 persen. Adapun di 2019, ekspor turun 0,9 persen dan impor turun 7,7 persen.

Sementara, konsumsi swasta juga diperkirakan melambat menjadi 4,6-5,0 persen, dari tahun lalu tumbuh 5,2 persen. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi juga diperkirakan hanya tumbuh 3,13,5 persen di tahun ini, melambat dibandingkan tahun lalu yang dapat tumbuh 4,5 persen.

Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi di tahun ini diproyeksi hanya 4,2-4,6 persen, jauh lebih rendah dibandingkan proyeksi awal BI sebesar 5,0-5,4 persen. (*/UG)

Komentar

News Feed