oleh

”Harusnya KPK Penyuluhan ke Anak SMA”

Wawancara Imajiner dengan Mantan Koruptor (1)

“Selamat pagi, Pak. Kita jadi ketemu ‘kan, Pak?”

“Jadi, jadi. Jam delapan, ya?”

”Iya. Saya sudah di kafe, tempat yang Bapak sebut kemarin.”

“Sudah lama menunggu? Maaf ya, saya lupa. Saya ke sana sekarang.”

“Siap, Pak.”

Setelah telepon ditutup, saya sempatkan memeriksa catatan pertanyaan serta melihat-lihat lagi profil Pak ET. Supaya tidak salah ketika wawancara nanti, saya kembali membaca kasus korupsi yang menyeret Pak ET ke penjara. Oleh hakim tipikor Pak ET dinyatakan terbukti bersalah telah melakukan tindak pidana korupsi yang merugikan negara puluhan miliar rupiah.

Pak ET memiliki satu istri serta tiga anak. Anaknya yang kedua perempuan, cantik dan terkenal sebagai pemain sinetron. Anak pertama laki-laki, sedang mengambil S-2 di luar negeri, dan yang bungsu siswa sebuah sekolah swasta yang terkenal mahal di Jakata.

Sudah hampir setengah jam saya menunggu tapi Pak ET belum juga datang. Handphone saya bunyi. “O, ya, Pak, nggak apa-apa. Saya tunggu.”

Pak ET menjelaskan bahwa dia sedang bertemu dengan Jelita Sekali, wanita simpanannya. Pak ET tidak menyebutkan tempatnya dan saya pun tidak merasa perlu bertanya mengenai hal itu. Saya mengenal Jelita Sekali. Sulit menyebut profesi Jelita Sekali yang sebenarnya, tetapi dia memang pernah tampil menyanyi di televisi. Dia sering dimunculkan di televisi mungkin karena wajahnya laku dijual.

Setengah jam kemudian, akhirnya Pak ET muncul. Dia menjabat erat tangan saya. Bahkan, saya dipeluknya.

”Sudah pesan?”

”Sudah, Pak.”

Kemudian dia memanggil pelayan. Setelah pelayan pergi, saya mulai membuka percakapan dengan berbasa-basi,”Wah, Bapak kelihatan segar dan tetap keren.”

Ia tertawa, wajahnya sumrigah. ”Ah, kamu bisa saja menyenangkan hati orang.”

“Betul, Pak.”

Setelah meletakkan gelas minuman ringan, saya bertanya, “Bapak benar-benar menyesal telah melanggar hukum?”

”Sudah tentu saya menyesal. Itu ‘kan sudah saya sampaikan di pengadilan. Lumayanlah buat meringankan hukuman.”

“Apa dulu anak dan istri Bapak tidak pernah mengingatkan Bapak?”

”Seingat saya sih tidak pernah.”

”Kalau tidak salah, anak Bapak yang paling tua kuliah di akuntasi ‘kan?”

“Iya. Kamu masih ingat, ya?”

”Ingat dong, Pak. Dia tahu ‘kan Pak, gaji Bapak sebulan berapa?”

”Pasti tahulah ….”

”Dia nggak pernah tanya Bapak dapat duit tambahan dari mana, selain gaji? Seingat saya, Bapak tidak punya usaha apa-apa ‘kan?”

”Itulah …. Tidak ada satu pun yang mengingatkan saya. Mereka minta ini-itu, tahunya ada.”

”Yang bungsu juga tentu sudah mengerti pengeluaran keluarga Bapak jauh lebih banyak dari penghasilan.”

”Itulah …. Harusnya KPK melakukan penyuluhan ke anak-anak SMA. Kasih tahu mereka untuk menghitung pengeluaran keluarga dalam sebulan. Kalau jauh melebihi penghasilan, mesti bertanya ke orangtua, dari mana asal duit tambahannya.”

”Itu gagasan yang bagus, Pak”

”Kamu ‘kan tahu, dari dulu saya punya gagasan bagus ….”

Ia tertawa lepas. Saya juga tertawa.

”Jelita Sekali banyak maunya, ya Pak? Berapa pengeluaran Bapak dalam sebulan, khusus untuk dia?”

”Alaah … kamu mau tahu aja.” (Bersambung)

Penulis:  Usman Gumanti

News Feed