oleh

Ingat Perebutan Kursi Menteri 2019

-Hukum-63 views

Membaca Penangkapan Bos KKP

MAMAKOTA,- Penangkapan yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap bos Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mestinya tidak membuat orang bergembira. Mestinya, yang menonjol adalah rasa kecewa. Sebab, memang sudah menjadi kewajiban atau tugas KPK menangkap pelaku tindak pidana korupsi.

Sebaliknya, pasti bukanlah kewajiban atau tugas penyelenggara negara melakukan tindak pidana korupsi.
Perlu diingat dan dipahami bahwa pada Pemilu Serentak 2019 pengusung pasangan Joko Widodo dan Ma’ruf Amin adalah (antara lain) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Nasional Demokrat (Nasdem), dan Partai Golongan Karya (Golkar). Partai Gerakan Indonesia Rakyat (Gerindra) bukan pengusung Jokowi-Ma’ruf. Bersama Partai Keadilan Sejahtera dan lain-lain, Gerindra mengusung pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahuddin Uno. Dan sebagaimana sudah menjadi bagian dari catatan sejarah, Jokowi-Ma’ruf-lah pemenang pilpres.

Setelah pelantikan presiden dan wakil presiden RI periode 2019-2024, pembicaraan tentang susunan kabinet semakin seru. Yang menjadi pusat perhatian adalah Jokowi dan Prabowo.

Singkat cerita, dua petinggi Gerindra masuk kabinet Jokowi-Ma’ruf. Ketua umumnya, Prabowo Subianto, menjadi Menteri Pertahanan, wakil ketua umumnya, Edhy Prabowo, kebagian KKP. Adapun Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), kader Partai Demokrat, yang namanya juga ramai disebut-sebut akan masuk kabinet, akhirnya gagal menjadi menteri. Dan perlu diingat dan dipahami, Demokrat juga bukan partai pengusung Jokowi-Ma’ruf.

Ketika beredar kabar ada orang Gerindra yang bakal masuk kabinet, terjadilah kasak-kusuk. Orang-orang dari partai pengusung Jokowi-Ma’ruf menolak. Penolakan itu dibungkus dengan pernyataan mentereng: dalam negara demokrasi menjadi oposisi itu juga penting, mulia. Maksudnya: jangan masuk kabinet.

Mengapa Prabowo dan Edhy akhirnya masuk kabinet Jokowi, sedangkan AHY tidak, tentu kita sudah maklum adanya. Itu sudah menjadi rahasia umum. (Kalau dibeberkan di sini, nanti dibilang nyinyir.)

Dan sebenarnya, yang tidak senang duo Prabowo masuk kabinet bukan hanya petinggi partai pengusung/pendukung Jokowi serta orang-orang yang tergabung dalam Tim Relawan Jokowi, melainkan juga para pendukung Prabowo sendiri. Tentang hal itu juga kita sudah sama-sama maklum.

Memang, Edhy Prabowo dan sejumlah orang lainnya ditangkap KPK karena diduga terlibat kasus tindak pidana korupsi (suap). Akan tetapi, jangan pula dilupakan, Edhy Prabowo itu petinggi Gerindra, partai yang berencana mengalahkan Jokowi-Ma’ruf.

Kedua hal itu tentu tidak berkaitan. Hanya saja, kalau ada orang-orang (termasuk rakyat pemilik suara) yang merasa perlu mencatatnya sebagai pelajaran penting untuk menghadapi Pemilu Serentak 2024, sebaiknya ya dimaklumi sajalah.  (Usman Gumanti) 

News Feed