oleh

Juragan 14 Pintu Kontrakan Tolak Bansos

-Berita-201 views

Catatan Ringan tentang PSBB Jakarta

MAMAKOTA,- Ini catatan ringan soal pembagian bantuan sosial dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berkaitan dengan penerapan pembatasan sosial berskala besar atau PSBB. Bansos berupa paket sembako ini rencananya diberikan bertahap empat kali dalam satu bulan untuk jangka waktu tiga bulan setelah diberlakukannya PSBB di Jakarta.

Pembagian bansos tahap pertama dinilai sebagian tidak tepat sasaran. Oleh karena itu, pembagian bansos kedua ditunda untuk evaluasi data penerima.

Faktanya memang telah terjadi salah sasaran dalam pembagian bansos dari Pemprov DKI Jakarta. Ini terjadi di Kelurahan Cibubur, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur.

Sebuah keluarga pemilik kontrakan empat belas pintu yang terdiri atas dua bangunan kokoh dan tergolong besar, keberatan menerima bansos yang diberikan Ketua RT. Kepala keluarga pemilik kontrak tersebut kemudian melimpahkannya ke tetangga sebelah rumah, adik iparnya sendiri.

Anehnya, dari 14 penghuni kontrakannya hanya empat yang kebagian bansos. Dua di antaranya adalah keluarga penerima Kartu Jakarta Pintar. satu manula (janda) dengan empat anak, dan satu lagi pasangan muda yang kedua-duanya (masih) bekerja . Itu terjadi di satu wilayah rukun tetangga (RT) yang mendapat jatah 64 paket sembako dari Pemprov DKI Jakarta.

Di lingkungan RT yang sama, sebuah keluarga lain yang tergolong mampu juga tidak bersedia menerima bansos dan oleh Ketua RT bansosnya kemudian diberikan kepada keluarga lain.

Suami-istri dari keluarga pertama dan kedua yang menolak bansos itu sama-sama sudah menunaikan ibadah haji dan berarti tergolong mampu. Suami-istri keluarga pertama sama-sama pensiunan PNS dan suami dari keluarga kedua adalah mantan pegawai sebuah perusahaan elektronik ternama serta memiliki warung cukup besar.

Dua hari setelah pembagian sembako dari Pemprov DKI Jakarta, datang bansos lain, kabarnya dari Polda Metro Jaya. Wilayah RT yang memiliki lebih dari 120 kepala keluarga tersebut kebagian jatah 24 paket sembako, tetapi tetap saja ada sejumlah keluarga yang sepatutnya kebagian luput dari catatan Ketua RT.

Bahwa sang ketua RT tertekan karena hal itu, rasanya iya. Dan sebenarnyalah dia sudah mengupayakan semua keluarga di lingkungannya memperoleh sembako dengan mengirim nama kepala keluarga ke Dinas Sosial Jakarta. Tapi, itulah kenyataan yang harus dihadapi. (UG)

Komentar

News Feed