oleh

Kemampuan Siswa Kendor, Kualitas Guru Harus Digenjot

-Berita-212 views

MAMAKOTA,- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan menggenjot kualitas pendidikan di Indonesia. Hal itu dilakukan menyikapi turunnya ranking Indonesia dalam Programme for International Student Assessment (PISA).

Untuk diketahui, PISA merupakan studi internasional tentang prestasi literasi membaca, matematika dan ilmu pengetahuan pada siswa sekolah berusia 15 tahun.

“Ranking kita di PISA di area literasi mengalami penurunan. Karena itu kami butuh strategi yang komprehensif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sehingga 2024 atau 2025 akan terlihat peningkatan,” ungkap Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim di Jakarta, kemarin.

Nadiem memaparkan, ada lima strategi besar untuk meningkatkan hasil PISA. Semuanya dominan pada program meningkatkan kualitas guru.

Pertama, mengubah standar penilaian sendiri dari Ujian Nasional (UN) menjadi assesment kompentensi minimum yang terinspirasi PISA. Hal itu dilakukan karena selama ini UN memakai standar lokal sementara assement mengacu pada standar internasional.

Sehingga nanti dalam ujian yang akan dites ke siswa bukan hanya kognitif saja. Tetapi juga karakter dan pernyataan hal-hal lain yang berhubungan dengan norma, kesehatan mental, kesehatan moral dan kesehatan anak-anak di masing-masing sekolah.

Kedua, transformasi kepemimpinan sekolah untuk memastikan guru-guru penggerak terbaik di berbagai daerah yang menjadi kepala sekolah. Mereka diberikan fleksibilitas dan otonomi dalam penggunaan anggaran dan penggunaan teknologi untuk meminimalisir beban administrasi mereka sehingga bisa fokus kepada mentoring tenaga pendidik di dalam sekolah mereka.

Ketiga, meningkatkan kualitas pendidikan profesi guru (PPG) agar lahir guru berkualitas baik. Nadiem ingin pelatihan-pelatihan guru tidak hanya berisi teori tetapi praktik.

Keempat, melakukan transformasi pengajaran yang sesuai tingkat kemampuan siswa. Sekarang banyak silabus dan kebijakan mengajar sangat ketat. Banyak guru yang tidak bisa mengajar dengan tingkat kemampuan siswa sehingga kurikulum harus lebih fleksibel dan sederhana.

“Orientasi kompetensi dan dibantu juga dengan platformplatform online yang membantu segmenetasi pembelajaran. Jadi semua murid tidak harus mengerjakan tugas yang sama. Misalnya murid dengan kemampuan yang berbeda mengerjakan project yang berbeda,” terangnya.

Kelima, mengubah pandangan bahwa semua transformasi atau perubahan hanya dari kementerian. Pihaknya akan meningkatkan kemitraan dengan daerah dan berbagai organisasi penggerak. (*/RM)

Komentar

News Feed