oleh

Klaster Baru: Parno, Muna

Kemajuan pesat di bidang teknologi komunikasi membuat banyak orang sibuk mengurusi hal-hal yang sebenarnya bukan urusannya. Atau, terlibat dalam urusan yang sebenarnya tidak benar-benar penting dan bermanfaat.

Kini, dengan gadget (gawai) di tangan (atau di meja), orang-orang mengaktifkan jempolnya untuk mendapatkan acungan jempol. Kata-kata dipangkas menjadi lebih pendek: ‘parno’, ‘muna’.

Anda tentu tidak asing dengan pemandangan berikut: sejumlah orang duduk berdekatan dan nyaris berimpitan tapi mereka tidak saling menyapa. Semuanya asyik dengan gawainya masing-masing. Ada yang terbius ‘game’, ada pula yang (justru) berkomunikasi dengan orang lain “nun jauh di sana”.

Pemandangan yang juga sering terjadi adalah berkumpulnya sejumlah orang tapi mereka tidak ngobrol, karena masing-masing sibuk ber-WA. Padahal, pertemuan itu hasil kesepakatan yang dibuat melalui WA.

Mengurusi hal-hal yang bukan urusan kita, jauh lebih banyak mudaratnya ketimbang manfaatnya. Akan tetapi, sangat disayangkan, kita sudah terjebak di dalamnya. Dan semua itu terjadi akibat (dan bukan berkat) kemajuan teknologi.

Bahwa kemajuan teknologi komunikasi telah melahirkan orang-orang terkenal yang bemanfaat, tentu saja tidak dapat disangkal. Tapi, berapa banyak? Jumlah orang yang dibuat menjadi tidak bermanfaat (di antaranya juga terkenal) jauh lebih banyak. Tidak sedikit orang yang kerjanya memprodusir hoaks atau kabar dusta yang bersifat menista.

Terlepas dari hal-hal teknis dan praktis, kalau kita sudi merenung sejenak, perkembangan sangat pesat di bidang teknologi komunkasi sesungguhnya telah membuat kita terlena. Sebagian besar dari kita sering melupakan hal-hal terbaik yang ada di dekat kita, karena kita sibuk memikirkan hal-hal yang jauh dan belum pasti terjadi. Kita tidak mensyukuri apa yang sudah kita peroleh tapi menyesali apa-apa yang belum kesampaian.

Banyak di antara kita yang sering berkata, “Kayaknya baru kemarin. Tidak terasa, cepat benar ya waktu berlalu.” Itulah yang terjadi, karena waktu kita sudah direnggut oleh gawai. Waktu terasa semakin singkat. Tahu-tahu orang-orang yang kita cintai pergi untuk selama-lamanya. Semasa hidup kita tidak pernah berusaha menyempatkan diri untuk berkomunikasi secara intens dan bermakna dengan mereka, tanpa gawai.

Kemajuan teknologi komunikasi telah menciptakan klaster baru: ‘parno’, ‘muna’. Selagi ada kesempatan, silakan menghindar.

Catatan: Usman Gumanti

News Feed