oleh

Lagi, Yurianto Coba Luruskan Ucapan “Si Miskin dan Si Kaya”

-Hukum-112 views

Respons “37 Blunder Pernyataan Pemerintah Soal Covid-19”

MAMAKOTA,- Achmad Yurianto, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, lagi-lagi coba menjelaskan soal ”si kaya dan si miskin”. Tepatnya, terkait ucapannya, ”Yang kaya melindungi yang miskin agar bias hidup dengan wajar dan yang miskin melindungi yang kaya agar tidak menular penyakitnya”.

Upaya Yurianto meluruskan ulang ucapannya itu ada hubungannya dengan rilis tentang 37 blunder pernyataan pemerintah dalam menanggapi wabah Covid-19 yang baru saja dikeluarkan oleh Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES). Blunder dilakukan oleh Presiden, menteri serta pejabat lainnya sejak fase awal krisis virus korona pada akhir Januari 2020. Dan, Yuri termasuk di dalamnya.

Menurut dia, blunder yang dimaksud hanya berupa potongan ucapannya selama 40 detik. Padahal, durasi dia berbicara saat itu mencapai lebih dari setengah jam.

”Saya menyebut itu, karena keprihatinan saya bahwa imbauan di rumah saja tidak dijalankan dengan baik,” kata Yuri, Selasa (7/4).

Dia menguraikan,banyak pekerjaharian yang masih keluar rumah untuk mengais rezeki. Jika tidak keluar rumah, maka mereka tidak bias makan. Salah satunya adalah mereka yang bekerja sebagai pengemudi ojek online (ojol).

Atas alasan itu juga saat menyampaikan kalimat tesebut Yurianto turut menampilkan video ojol. “Mereka bilangkan sebetulnya tidak pingin keluar, karena tidak pingin sakit. Jadi kalau dia keluar itu karena terpaksa.” 

Mereka, sambungYurianto, sempat mengatakan kesediaan untuk tidak keluar rumah jika ada pihak yang member sembako.

Atas dasar itu, Yurianto kemudian mengatakan agar yang mampu secara ekonomi membantu yang tidak mampu. “Saya ngomong begitu bukan hanya ke kamera lho ya, tapi kemasyarakat luas, agar yang kaya bantu miskin, kalau enggak mereka di jalan, kalau dia ketularan penyakit, kalau pulang ada anak istri kalau kena urusannya jadi panjang.” .

Sementara bagi para asisten rumah tangga yang berpotensi tertular oleh para majikan, Yurianto menyarankan agar mereka di rumah saja. Terpenting, hak mereka tetap diberikan oleh majikan.

“Saya enggak melihat marahnya orang yang miskin. Tapi sekarang coba lihat, yang kaya beramai-ramai berbagi sembako, bagi-bagi uang. Itu tujuannya,” tandas Yuri.  (*/UG/rmol)

Komentar

News Feed