oleh

Pajak Penghasilan Karyawan Bakal Ditiadakan

-Berita-185 views

Menperin: Produksi Manufaktur Bisa Anjlok 50 Persen

MAMAKOTA,- Kinerja industri manufacturing di Indonesia makin tergerus akibat dampak virus korona. Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasamita mengatakan, Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers Index/PMI), manufaktur Indonesia pada akhir kuartal I-2020 turun.

Agus menyebut, akibat penyebaran virus korona yang makin massif di berbagai daerah, penurunan utilitas industri manufaktur tidak dapat dihindari.

“Beberapa industri mengalami penurunan kapasitas produksi hampir 50 persen. Namun untuk industri-industri alat-alat kesehatan dan obat-obatan masuk pengecualian,” kata Agus di Jakarta.

Ia melanjutkan, pada dasarnya industri ini masih mampu melaksanakan proses produksi seperti biasa. Namun, Kemenperin mengimbau agar pelaksanaan tetap patuh pada protokol kesehatan yang ketat sehingga terhindar dari wabah virus corona.

Meski demikian, ia menjelaskan, penurunan manufaktur tidak hanya terjadi di Indonesia. Aktivitas manufaktur di Asia juga mengalami kontraksi sejak Maret 2020.

Rantai pasokannya berhubungan dengan negara lain. Berdasarkan data IHS Markit yang dirilis Rabu (1/4), hampir seluruh PMI manufaktrur regional turun di bawah 50. Indeks PMI Jepang anjlok ke level 44,8, sedangkan PMI Korea Selatan turun ke 44,2, level terburuk sejak krisis keuangan global lebih dari satu dekade lalu. Sedangkan di Asia Tenggara, angka PMI Filipina turun menjadi 39,7. Ini merupakan penurunan terendah sepanjang sejarah, sedangkan Vietnam merosot ke 41,9. Adapun PMI Indonesia berada di posisi 45,3 pada Maret 2020.

Agus mengatakan, demi menggairahkan kembali sektor industri di dalam negeri, Kemenperin akan mengusulkan pemberian berbagai stimulus fiskal dan nonfiskal. “Upaya tersebut, merupakan antisipasi dari banyaknya negara yang melakukan protokol penguncian (lockdown) yang memberikan dampak negatif bagi pasar lokal maupun global.”

Stimulus yang bakal dikeluarkan, misalnya dapat mempermudah arus bahan baku. Dalam hal ini, Kemenperin akan melakukan koordinasi dengan kementerian terkait. Sedangkan dari sisi fiskal, akan ada pengurangan pajak perusahaan dan peniadaan pajak penghasilan karyawan.

“Hal tersebut untuk meringankan beban dunia usaha maupun karyawan dalam jangka waktu tertentu,” tambah Menperin.

Tidak hanya industri besar dan manufaktur yang terdampak virus korona, industri kecil menengah dan aneka (IKMA) dalam negeri juga mulai kembang kempis dihantam badai ekonomi akibat mewabahnya virus asal Cina tersebut.

Direktur Jenderal IKMA Kemenperin Gati Wibawaningsih mengatakan, banyak IKMA yang kesulitan membayar gaji pekerja yang dirumahkan. Selain itu, rata-rata penjualan IKMA mengalami penurunan antara 50-70 persen.

“Untuk meringankan beban, kita usulkan ada pinjaman lunak kepada pelaku industri kecil. Nanti, bunga yang ada di pinjaman lunak ini bisa lebih rendah dari bunga kredit usaha rakyat,” ujar Gati.
Usulan kebijakan ini diharapkan mampu meminimalkan dampak corona kepada sektor IKMA. Gati menyebut, ini merupakan hal yang penting untuk dilakukan, mengingat jumlah pelakunya yang besar.

Hal ini dapat dilihat dari jumlah unit usaha yang tumbuh dari 3,6 juta unit di tahun 2015 hingga 4,6 juta unit pada 2019. IKMA juga merupakan industri yang cukup banyak menyerap tenaga kerja. Total tenaga kerja IKMA pada 2019 berada pada angka 10,8 juta orang dengan nilai produksi lebih dari Rp 1 triliun.

Sebelumnya Kemenperin juga telah mengambil langkah untuk meminimalisasi dampak ekonomi terhadap IKMA yaitu bekerja sama dengan start up untuk membantu memasarkan produk-produk IKMA. “Beberapa startup tersebut antara lain Tokopedia, Shopee, Blibli, dan Bukalapak.” (*/UG)

Komentar

News Feed