oleh

Pakar Epidemiologi UI: Mei, Kasus Covid-19 Bisa Turun

-Berita-142 views

MAMAKOTA,- Pakar epidemiologi Universitas Indonesia (UI) Iwan Ariawan memprediksi, puncak pandemi korona di Indonesia akan terjadi pada minggu kedua atau ketiga bulan April 2020.

“Kita baru dalam fase naik. Pasti akan bertambah terus naiknya,” kata Iwan dalam webinar bertajuk “Kesiapan Daerah Hadapi Pandemi Covid-19” yang digelar katadata.co.id, Jumat (3/4).

Iwan optimistis, jumlah kasus positif Covid-19 dapat menurun pada akhir Mei 2020, bila pemerintah melakukan intervensi yang baik. Antara lain, dengan mengimbau masyarakat agar tidak mudik. Sebab, pergerakan jumlah orang dalam jumlah besar sangat rawan terhadap penyebaran korona.

Menurutnya, setiap provinsi menghadapi dua jenis risiko di tengah wabah lorona. Pertama, risiko penyebaran korona. Faktor risiko ini dipicu oleh kepadatan tingkat penduduk dan mobilitas warga. Kedua, risiko mortalitas atau kematian akibat wabah Covid-19. Risiko ini sangat terkait dengan minimnya ketersediaan pelayanan kesehatan, tenaga kesehatan, dan alat medis seperti ventilator. Terlebih, penyebaran ventilator di Indonesia masih belum merata, di mana 8.000 ventilator terpusat di Pulau Jawa.

Dalam kesempatan tersebut, Iwan juga menyampaikan empat poin penting dalam mencegah penyebaran Covid-19. Pertama, penerapan social distancing (menjaga jarak) dengan implementasi ketentuan tentang pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Kedua, melakukan tes lorona secara massal dengan metode yang akurat. Jangan sampai, ada orang yang terinfeksi virus Corona, tapi belum melakukan isolasi diri. Ketiga, pemerintah perlu memperhatikan acara-acara keagamaan yang besar, seperti Ramadan, Idulfitri, dan Paskah.

“Ini harus diatur, karena ada kecenderungan orang berkumpul. Tokoh agamanya juga perlu dilibatkan, agar efektif,” tutur Iwan.

Keempat, pemerintah harus melihat kesiapan sistem kesehatan daerah. Terutama, ketersediaan sistem perawatan intensif.

“Perlu ada pemetaan terkait lokasi wilayah dengan sistem kesehatan yang belum memadai. Kemudian, perlu ada jaminan keamanan untuk tenaga kesehatan yang menangani pasien korona,” kata Iwan. (*/UG)

News Feed