oleh

Panggil Sajalah Saya ‘Jiddu’ (1)

-Berita-287 views

MAMAKOTA,- PROFIL – Ahli tafsir Alquran, Quraish Shihab, bercerita tentang masa kecilnya dan pandangannya tentang kehabiban. Enak betul rasanya dilahirkan dari garis keturunan Nabi Muhammad SAW. Dihormati sejak dalam kandungan, terpandang sejak gema tangisan pertama, dan dianggap golongan yang diistimewakan, bahkan ketika belum bisa mengucap sepatah kata pun. 

Namun, benarkah demikian? Tidak sedikit keturunan Nabi malah enggan dipandang dengan atribut keistimewaan demikian. Bahkan ada yang memilih untuk menanggalkan gelar ”habib” karena merasa tidak begitu berhak. 

“Bahkan sampai sekarang sebenarnya ada orang-orang yang punya garis keturunan dari Nabi, punya pengabdian yang besar, tidak dikenal sebagai sayid,” kata Quraish Shihab.  

Dia adalah penafsir Alquran yang cemerlang, cendekiawan muslim yang memiliki rekam jejak luar biasa, diakui sebagai ahli ilmu tafsir di dalam dan luar negeri. 

Quraish dilahirkan pada 16 Februari 1944 di Rappang, Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan. Ayahnya, Abdurrahman Shihab, juga ulama dan guru besar di bidang tafsir. Dibesarkan oleh keluarga yang terpandang tidak membuat Quraish serta-merta mendapat keistimewaan-keistimewaan.

Sejak kecil, Quraish kecil diwanti-wanti oleh sang ayah untuk jangan sekali-kali mengandalkan garis keturunan. “Tidak perlu memperkenalkan diri sebagai sayid atau sebagai habib,” katanya.

Itulah yang kemudian membuat Quraish sejak kecil selalu berusaha menunjukkan diri bahwa dia bisa seperti sekarang bukan karena keistimewaan garis keturunannya, melainkan karena kerja keras, perilaku sehari-hari, dan pemikiran-pemikirannya yang mencerahkan dan meneduhkan.

Di kediamannya di sekitar Cilandak, Jakarta Selatan, dengan ramah penulis Tafsir Al-Misbah yang fenomenal ini menyambut kedatangan kami. Di ruang tamu kediamannya, wawancara berlangsung santai. Kadang celotehan Quraish memancing tawa kami. (*/bersambung)

Komentar

News Feed