oleh

Panggil Sajalah Saya ‘Jiddu’ (2)

MAMAKOTA, PROFIL – Ahli tafsir Alquran, Quraish Shihab, bercerita tentang masa kecilnya dan pandangannya tentang kehabiban. Berikut bagian pertama wawancara Zen RS dan Ahmad Khadafi dari Tirto dengan Muhammad Quraish Shihab.

Bagaimana masa kecil Anda di Sulawesi Selatan?

Sebenarnya kami itu, lebih-lebih di Sulawesi, membaur. Tidak ada itu istilah, seperti di Jawa ada Kampung Arab. Di sana tidak ada Kampung Arab.

Istilah koloni Arab di sana tidak ada?
Tidak ada. Kami punya organisasi yang berbaur di dalamnya, orang-orang Arab dan orang-orang Bugis-Makassar,  organisasi yang didirikan oleh ayah saya, namanya ”JIWA”.

Singkatan apa itu?
Jam’iyah Al-Ittihad Wa al Muawanah. Organisasi Persatuan dan bantu-membantu.

Itu yang di Rappang?
Tidak, itu yang di Makassar. Kalau di Rappang mungkin malah tidak ada, ya. Selama di Rappang itu, lebih banyak berbaur atau menyatu dengan keluarga kerajaan, karena ibu dari ibu saya, nenek saya, adalah putri keluarga bangsawan. 

Berarti kurang lebih Anda ini muwallad (peranakan), ya?
Iya. Ayah saya muwallad, nenek saya pun muwallad.

Bukan lagi wulaiti (Arab/Hadramaut totok)?
(Bahkan) Ayah saya tidak pernah ke Hadramaut. Saya pun belum pernah ke Hadramaut.

Belum pernah ke Hadramaut? Tidak merasa terpanggil?
Merasa terpanggil. Tapi tidak, belum takdir. Saya ingin melihat ke sana, masih banyak keluarga di sana. Kalau istri saya sudah pernah dua kali ke Hadramaut. [Saat] saya jadi duta besar di Djibouti, hanya tinggal satu langkah ke Hadramaut. Tapi belum ada takdir.

Apalagi kalau melihat dinamika keturunan Hadramaut awal-awal abad ke-20 itu antara terikat dan tanah yang dipijak (Indonesia) atau berorientasi kepada Hadramaut sebetulnya masih kencang…
Ya, itu masih kencang. Tapi saya kira daya tarik ke Indonesia lebih kuat. Ini disebabkan karena apa? Orang-orang yang datang dari Hadramaut itu tidak bawa istri. Jadi, mereka kawin di sini. Jadi anak-anaknya yang dekat pada ibunya, itu lebih Indonesia. Bahkan bahasanya lebih banyak bahasa Indonesia karena ibunya orang Indonesia. Atau bahkan bahasa Jawa. Saya di rumah berbahasa Bugis dengan ibu.

Tidak berbahasa Arab?
Tidak. Ya, kami tidak, sebagian saudara saya tidak mengerti bahasa Arab.

Dengan ayah?
Dengan ayah berbahasa Indonesia. Jadi sejak semula Ayah memerintahkan kami berbahasa Indonesia di rumah antara satu dengan yang lain.

Anda enggak diajak belajar bahasa Arab?
Kemudian saya masuk pesantren di Malang. Umur 14 tahun.

Kalau kita agak mundur, 1930-an, masih ramai diskusi atau debat di kalangan Hadramaut tentang keutamaan sayid. Waktu kecil apakah Anda merasa ada privilese?
Tidak. Bahkan karena Ayah juga mengajarkan kami jangan pernah mengandalkan keturunan. Tidak perlu memperkenalkan diri sebagai sayid atau sebagai habib.

Itu dari kecil?
Dari kecil.

Ke semua?
Ke semua.

Kepada anak beliau atau mungkin juga ke keponakannya?
Iya, kepada keluargalah. Tidak ada itu. Selalu dia katakan kalau mau dikenal orang, dikenallah dengan akhlakmu, dengan hatimu. Itu satu yang beliau sampaikan. 

Yang kedua, jangan permalukan leluhurmu dengan perbuatanmu yang buruk. Itu yang ditanamkan kepada kami, dan itu yang terjadi di masyarakat Indonesia di Sulawesi Selatan. Di Sulawesi Selatan, tidak ada organisasi sayid khusus atau non-sayid khusus.

Saya pernah membaca Syaikh Ahmad Surkati pernah mengatakan ”sayid” itu dalam bahasa Belanda mirip ”meneer” atau kalau dalam Perancis itu mirip ”monsieur”. Sebetulnya bagaimana, Prof? 
Sekarang gini. Gelar sayid, gelar habib, diberikan orang. Sama halnya dengan kiai. Siapa yang memberi gelar kiai? Masyarakat yang hormat sama dia. Itu setelah melalui proses yang bisa menjadi alasan untuk dia diberi gelar sayid atau habib. Itu hemat saya. 

Mereka melihat bahwa ada keistimewaan pada orang-orang yang mempunyai tali keturunan dengan Rasulullah, ada keistimewaan. Keistimewaan itu suka atau tidak suka harus Anda akui. Kenapa demikian? Bukankah di Indonesia juga ada yang namanya bibit, bebet, bobot? Iya, kan? 

Jadi itu ada. Di dalam tinjauan ilmuwan pun itu anak child between heredity and education. Ini dikuatkan oleh perintah mencintai. Dan lebih dikuatkan lagi karena akhlak mereka sangat luhur sehingga tidak segan orang memanggilnya sayid atau habib.

Kalau saya baca literatur-literatur peranan tentang Indo-Eropa, Indo-Tionghoa, Indo-Arab, sebetulnya dulu saya jarang sekali membaca orang ditulis namanya ”Habib”, paling cuma ”sayid” saja. 

Ya, karena habib sangat jarang. Karena syaratnya, bahwa dia harus orang alim, di samping keturunan [Nabi]. Harus orang alim, harus orang yang memberi perhatian pada masyarakat. (*/bersambung)

Komentar

News Feed