oleh

Popularitas Dulu, Kriteria Lain Belakangan

Pilkada Serentak 2020 akan berlangsung pada 9 Desember. Semua peserta yakin menang. Jika sebuah pilkada diikuti tiga peserta pasangan calon, misalnya, dapat dipastikan dua pasangan calon keyakinannya salah. Dan hal itu dapat diketahui setelah pencoblosan surat suara di tempat pemungutan suara.

Banyak kader partai politik berpengalaman dan namanya juga sudah lama disebut-sebut (diputuskan pengurus partai tingkat daerah) bakal dicalonkan menjadi kepala daerah, terpaksa gigit jari. Mereka kecewa berat. Pada detik-detik akhir ternyata orang lain yang baru disahkan sebagai anggota partai yang didaftarkan ke penyelenggara pemilu. Bahkan, ada yang direkrut sebagai anggota setelah dipastikan menjadi calon kepala daerah.

Pengurus pusat partai memilih ‘orang baru’ atau orang luar sebagai calon kepala daerah dengan pertimbangan atauberdasarkan kalkulasi politik pragmatis, yaknipeluangnya untukmenjadi pemenang jauh lebih besar ketimbang kadernya sendiri.

Partai politik didirikan memang untuk meraih kekuasaan.Untuk menentukan siapa yang bakal dicalonkan dalam pemilihan kepala daerah (pilkada), misalnya, ada partai yang memberikan hak prerogatif kepada ketua umum, sementara partai lain mengambil keputusan mengenai hal itu melalui mekanisme musyawarah. Jadi, lain partai lain pula aturan mainnya.

Semakin jelas bahwa yang dipentingkan sekarang adalah popularitas dan elektabilitas figur, adapun kriteria lain disusun (disesuaikan)kemudian. Selain faktor popularitas dan elektabilitas, faktor lain yang sama pentingnya–tapi biasanya tidak disebut–adalah ‘isi tas’.

Dulu, nama cendekiawan muslim Nurcholish Madjid atau Cak Nur (almarhum) disebut-sebut sebagai tokoh yang mungkin menjadi presiden negeri ini. Akan tetapi, ternyata kemudian tidak ada satu pun partai yang mengusungnyadalam pemilihan presiden dan nama Cak Nur pun menghilang dari peredaran.

”Menjadi calon presiden rupanya juga perlu ‘gizi’,” begitu kata Cak Nur kepada wartawan.

Yang dimaksud Cak Nur dengan ‘gizi’ adalah ‘isi tas’ alias fulus.  (Red/*)

News Feed