oleh

Presiden yang Sedang-sedang Saja

Rasa-rasanya kita harus jujur, hingga saat ini kita sama sekali belum mendapat gambaran, bayangan bahwa pada 2024 bangsa ini akan mendapatkan presiden yang luar biasa, kelas premium, ‘limited edition’.

Dan tampaknya kita akan mendapat presiden yang sedang-sedang saja. (Harap dipahami, di sini tidak disebut nama capres hasil survei.)

Rasa-rasanya, kalaupun memang itu yang terpaksa kita terima, kita tetap harus bersyukur. Dengan catatan, presiden yang sedang-sedang saja itu diakui (tidak dapat dibantah) adalah seorang yang jujur dan adil. Yang repot dan patut disesali adalah jika presiden yang sedang-sedang saja itu pun seorang yang diragukan kejujuran dan keadilannya.

Rasa-rasanya, sekadar mendapatkan presiden yang sedang-sedang saja tapi jujur dan adil pun sulit. Situasi dan kondisinya memang belum memungkinkan hal itu. Maka, sah-sah saja jika kita akhirnya bersikap apatis-pesimistis.

Kalaulah mau dirunut jauh ke belakang hingga zaman Orde Baru, mungkin beralasan jika kita menumpahkan kesalahan kepada para penguasa Orde Baru yang 30 tahun lebih semaunya sendiri memanfaatkan kekayaan alam negeri ini untuk kepentingan pribadi. Mereka tidak memberi ruang bagi demokrasi. Kekuasaan hanya milik segelintir orang.

Tumbangnya Orde Baru (lawan dari Orde Lama) dan lahirnya Orde Reformasi pada 1998 jelas telah membuka ruang bagi tumbuhnya demokrasi. Sayangnya, hingga kini pun Orde Reformasi belum menghasilkan pemimpin dambaan bangsa.

Jangan-jangan, kalau dulu Orde Baru dibiarkan saja justru lebih baik bagi bangsa ini. Mengapa? Sebab, mereka, para penguasa Orde Baru itu, sudah berada pada taraf nyaris kekenyangan dan oleh karena itu tidak kemaruk lagi. (Harap dimaafkan, ini kelakar belaka.)
Rasa-rasanya, lebih baik kita menyiapkan diri untuk menerima presiden yang sedang-sedang saja.

Mengharapkan presiden yang luar biasa, yang premium, yang ‘limited edition’, hanya akan membuat kita kecewa. Akan tetapi, boleh jugalah kalau ada yang ingin mencoba bersikap “mengharapkan yang terbaik, tetapi siap menerima yang terburuk”. Dan sepertinya kita masih sanggup menerima cobaan.

Ini juga kelakar semata: istilah “yang sedang-sedang saja” mungkin membuat Anda teringat lagu dangdut yang dibawakan penyanyi Vetty Vera, kakaknya Alam ‘Mbah Dukun’. Boleh. Silakan.

Senyampang masih ingat pula, perlu diingat dan dipahami bahwa jujur dan adil tidak bermakna (bermanfaat) tanpa keberanian. Jujur, adil, dan berani masih abstrak. Presiden dapat membuat tiga kata sifat itu menjadi hal yang konkret dengan ucapan, tindakan, keputusan, dan kebijakan. Dan yang juga perlu diingat dan dipahami adalah bahwa seorang presiden (pemimpin) TIDAK HARUS dekat secara fisik dengan rakyatnya. Yang terpenting adalah ucapan, tindakan, keputusan, dan kebijakan presiden menenteramkan rakyat, seluruh rakyat.

Catatan: Usman Gumanti

News Feed