oleh

Rupiah Tembus Rp 16.000 Per Dolar, Investor Panik

-Berita-148 views

MAMAKOTA, JAKARTA, — Kepanikan melanda para pelaku bisnis di Indonesia. Menyusul anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang tembus hingga level Rp 16.000.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menekankan bahwa kondisi saat ini berbeda dengan krisis sebelumnya baik di 1998 maupun 2008. Kondisi ang terjadi saat ini adalah kepanikan investor yang merata di seluruh pasar keuangan. Sebab virus corona begitu cepat menyebar ke berbagai negara termasuk negara maju.

“Yang terjadi saat ini sangat berbeda dengan 1998 atau 2008. Sekarang yang terjadi adalah kepanikan seluruh pasar keuangan global, termasuk juga pemilik-pemilik modal di seluruh dunia karena begitu cepat merebaknya virus, ke AS ke berbagai negara di Eropa, Inggris, dengan eskalasi yang cepat,” terangnya melalui video conference, Jumat (20/3/2020).

Kepanikan itu membuat para investor menjual asetnya secara bersamaan dan menerimanya dalam bentuk dolar AS. Hal itulah yang membuat dolar AS menggila, lantaran banyak diserap oleh pasar termasuk di Indonesia.

“Memang investor dan pelaku pasar global melepas semua aset-asetnya yang mereka miliki apakah saham, apakah obligasi, emas, dan mereka menjualnya dalam bentuk dolar, sehingga di seluruh dunia terjadi pengetatan dolar di pasar keuangan global. Dalam konteks itu memang Indonesia juga terkena. Kita tidak sendiri, seluruh negara mengalami hal sama,” tambahnya.

Menurut data yang dia punya, hingga 19 Maret 2020 telah terjadi penarikan dana asing (capital outflow) mencapai Rp 105,1 triliun. Terdiri dari SBN yang dilepas asing Rp 92,8 triliun dan pasar saham Rp 8,3 triliun.

“Memang sebagian besar capital outflowterjadi pada bulan Maret seiring dengan eskalasi yang sangat cepat penyebaran virus di negara-negara maju tadi di Eropa tadi. Sehingga ini yang dihadapi seluruh dunia, ada pelepasan aset keuangan dan mereka konversi ke dolar,” tutupnya. (amd)

Komentar

News Feed