oleh

Sang Ibunda Dipersekusi, Mahfud Kebanjiran Empati

-Hukum-85 views

MAMAKOTA,- Persekusi terhadap ibunda Mahfud MD, Siti Khadijah, oleh ratusan orang di Pamekasan, Jawa Timur, pada Selasa (1/12), mengundang empati banyak pihak. Mahfud pun banjir simpati. Kawan dan lawan menunjukkan rasa sayang ke Menko Polhukam tersebut. Dari kubu kawan, yang pertama kali menunjukkan rasa sayang adalah Barisan Ansor Serbaguna (Banser). Puluhan anggota organisasi sayap Nahdlatul Ulama (NU) itu menjaga rumah Mahfud di Pamekasan.

“Ini sudah menjadi tugas dan tanggung jawab utama seluruh kader Banser untuk melindungi para kiai dan juga tokoh-tokoh NU dari ancaman atau gangguan yang datang,” kata Ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor, Yaqut Cholil Qoumas, dalam keterangannya, kemarin.

Nantinya, anggota Banser akan bergantian berjaga dengan aparat Kepolisian setempat yang lebih dulu mengamankan rumah Mahfud. “Yang kami terjunkan anggota Banser dari wilayah Pamekasan dan sekitarnya,” terang Wakil Ketua Komisi II DPR itu.

Rasa sayang berikutnya datang dari Koordinator Perhimpunan Santri, Mahasiswa, dan Pemuda Madura (PSMPM), Taufiq Ainul Yaqin. Dia heran melihat sikap massa asal Madura yang justru tak mendukung langkah yang diambil Mahfud, yang merupakan putra daerah. “Ini aneh malah membela Rizieq Shihab yang notabene bukan putra Madura.”

Kawan-kawan Mahfud dari partai politik juga menunjukkan rasa sayangnya. Bendahara Umum Partai Nasdem Ahmad Sahroni, misalnya, amat kesal atas ulah massa yang menggeruduk rumah ibunda Mahfud.  Menurut anggota Komisi III DPR ini, massa telah bertindak semena-mena terhadap negara.

“MMD (Mahfud MD) ini kan perwakilan negara. Jadi, sama saja arogan terhadap negara,” tegasnya.

Politisi PAN, Pangeran Khairul Saleh turut memperlihatkan rasa sayang ke Mahfud. Menurut anggota Komisi III DPR itu, penggerudukan yang dilakukan massa jelas menimbulkan ketidaknyamanan bagi Mahfud.

“Terlepas Pak Mahfud adalah seorang menteri, setiap warga negara berhak mendapatkan rasa aman karena dijamin oleh negara,” tuturnya.

Dari kubu lawan, yang menunjukkan rasa sayang antara lain Ketua DPP PKS, Mardani Ali Sera. Anggota Komisi II DPR itu menjelaskan, penggerudukan massa ke rumah jelas salah. “Terlebih pada ibunda Pak Mahfud MD. Pada ibunda siapa pun, mestinya kita menjaga dan menghormati,” ucapnya, kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Selanjutnya, pentolan Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) Said Didu, yang biasanya berseberangan dengan Mahfud, kini turut menunjukkan rasa sayang. Sebelum menyampaikan rasa prihatin, Didu mengakui memang sering berseteru dengan Mahfud. “Banyak hal yang kadang saya beda pendapat dengan Prof @mohmahfudmd. Apalagi tentang bola,” tulis Didu, di akun Twitter pribadinya, @msaid_didu.

Tapi, untuk kejadian penggerudukan rumah ibunda Mahfud, Didu dengan tegas menolaknya. “Saya sangat tidak setuju mendemo rumah dan orang tua beliau. Karena jelas-jelas hal tersebut sudah masuk ke ranah yang sangat pribadi. Apalagi kalau mendemo ibu beliau,” tambah Didu.

Bagaimana sikap Polisi? Polda Jawa Timur (Jatim) sudah memeriksa dua orang terkait kasus tersebut. “Sedang kami dalami perannya,” jelas Kepada Bidang Humas Polda Jatim, Kombes Trunoyudo Wisnu Andiko.

Menurut Trunoyudo, penggerudukan itu dilakukan kelompok yang mengatasnamakan Umat Islam Kabupaten Pamekasan. Kelompok itu awalnya menggelar aksi di Monumen Arek Lancor, Pamekasan. Sebagian massa menggelar audiensi di Mapolres Pamekasan.

Setelah aksi, sebagian massa melewati rumah Mahfud. “Beberapa kelompok, sebelum pulang, berhenti di depan kediaman keluarga Menko Polhukam Mahfud MD di Jalan Dirgahayu, Kelurahan Bugih, Kecamatan Pamekasan.” (red/usman)

News Feed