oleh

Sanksi yang Bikin Sangsi

MAMAKOTA,- Ini masih soal wabah virus korona, khususnya mengenai upaya mencegah penyebarannya di Tanah Air.

Sebenarnya, jujur saja kita sudah letih menghadapi Covid-19. Sangat mungkin sudah ada pula yang dalam taraf putus asa.

Seraya menunggu adanya vaksin yang mujarab untuk mencegah penularan virus korona, pemerintah kita telah mengambil langkah-langkah yang perlu yang diyakini dapat menekan penyebaran virus asal Cina itu.

Kini, misalnya, dikenal istilah Tiga M, yakni mengenakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan. Tidak ada satu pun pemerintah daerah yang tidak serius menangani pencegahan penularan Covid-19.

Satpol PP, polisi, dan tentara dilibatkan dalam kegiatan pencegahan penularan Covid-19. Bersama petugas medis, mereka melaksanakan tugas mengawasi orang-orang yang lalu lalang di jalan raya, termasuk orang-orang yang menggunakan kendaraan bermotor. Siapa pun yang kedapatan tidak mengenakan masker, diberi sanksi.

Tidak semua pelanggar peraturan atau ketentuan tentang pencegahan Covid-19 dikenakan sanksi denda. Ada yang (hanya) disuruh menyapu jalan, push up, membaca teks Pancasila, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, atau memeluk pohon.

Di antara sanksi sosial yang diberikan kepada para pelanggar aturan Covid-19, rasa-rasanya memeluk pohonlah yang sulit dipahami maksud dan tujuannya. Mengapa peluk pohon? Adakah manfaat sanksi sosial peluk pohon itu? Rasa-rasanya, sama sekali tidak ada.

Bersungguh-sungguh dalam bekerja tentu harus. Berkreasi boleh. Akan tetapi, kebijakan memberikan sanksi sosial peluk pohon kepada para pelanggar peaturan atau ketentuan pencegahan Covid-19 sungguh membingungkan. Terkesan main-main. Padahal, kita sedang melawan virus maut yang sudah memakan banyak korban jiwa.

Kita perlu sanksi yang bermanfaat, bermartabat. (Red/*)

Komentar

News Feed