oleh

Tujuh Lawan Dua Soal RUU Cipta Kerja

-Berita-78 views

Buruh Gagal Menjegal

Ada pemandangan menarik saat kalangan buruh menolak pengesahan Omnibus Law Rancangan Undang Undang (RUU) Cipta Kerja, yang dilakukan DPR, kemarin. Para buruh yang tak peduli adanya serangan korona dan terik matahari, berbaris di jalan-jalan. Ada yang di depan Gedung DPR, ada juga yang tersebar di daerah lainnya. Sementara itu, dua bos para buruh itu, justru berangkat ke Istana negara yang adem dan asri.

Keputusan untuk mengesahkan RUU Ciptaker menjadi Undang -Undang disepakati dalam sidang paripurna DPR kemarin. Tercatat, tujuh fraksi menyetujui RUU tersebut menjjadi undang-undang, sedangkan dua fraksi, yakni PKS dan Demokrat, mengambil sikap menolak.

Pengesahan RUU Cipta Kerja dihadiri langsung perwakilan pemerintah. Di antaranya, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Sri Mulyani, dan Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly.

“Kepada seluruh anggota, saya memohon persetujuan dalam forum rapat peripurna ini, bisa disepakati?” kata Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin selaku pemimpin Sidang Paripurna. Aziz langsung mengetuk palu, usai peserta rapat menyatakan setuju.

Sementara itu, di luar Gedung DPR aksi penolakan sejumlah organisasi buruh tetap terjadi. Namun, unjuk rasa para buruh tidak lagi terkonsentrasi di depan Gedung DPR. Ada yang sempat sampai ke Jalan Pemuda Senayan, lantas diperintahkan pihak kepolisian untuk putar balik.

Begitupun dengan serikat pekerja yang berasal dari wilayah Bekasi. Para buruh sudah dicegat sebelum berhasil masuk ke Jakarta. Beberapa sekretariat buruh di kawasan industri itu ditongkrongi TNI dan Polisi. meskipun tidak bisa berangkat, para buruh ini tetap menggelar demonstrasi menolak RUU yang disingkat Ciptaker itu.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus menjelaskan, kenapa menahan buruh untuk demo di DPR. alasannya adalah PSBB di DKI Jakarta.

“Izin keramaiannya tidak kita berikan kepada para pendemo,” ujar Yusri, di Polda Metro Jaya, kemarin.

Sementara itu, di Istana Negara, dua bos serikat pekerja diketahui menghadap Presiden Jokowi, kemarin. Pertama, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nena Wea dan Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal.

Usai pertemuan, tidak banyak informasi yang disampaikan dua pimpinan organisasi buruh terbesar di Indonesia itu. Andi Gani hanya menjawab dua kata, ketika menjawab pertanyaan: sejak kapan dipanggil bertandang ke Istana?

“Tadi malam,” jawabnya singkat, sambil melambaikan tangan, berlalu seiring mobil listrik berstiker logo HUT Ke-75 RI itu tancap gas.

Apa ada kaitannya kedua bos buruh itu ke istana dengan demo RUU Ciptaker? Tenaga ahli Utama Kantor Staf Presiden atau KSP Donny Gahral Adian mengatakan, pertemuan Jokowi dengan dua bos serikat pekerja ini adalah silaturahmi biasa. Namun, ia tidak menampik, dalam pertemuan itu turut membahas persoalan UU Ciptaker dan rencana aksi demo dan mogok buruh, sekalipun tidak spesifik.

“Cuma tukar pikiran dengan serikat buruh. Tidak berhubungan dengan demo. itu (demo buruh) adalah ruang dalam berdemokrasi. (Pertemuan itu) bukan untuk meredam demo tanggal 8,” kata Donny, dalam perbincangan dengan Rakyat Merdeka, tadi malam.

Menurutnya, pengesahan RUU Ciptaker yang sempat ditunda oleh Presiden Jokowi, April lalu, sudah melewati proses yang maksimal dalam menyerap aspirasi dari berbagai kelompok kepentingan. Termasuk kelompok buruh. Jika masih ada yang tidak puas, ia menyarankan agar menempuh jalur hukum lain, yakni judicial review.

Di tempat terpisah, Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziyah angkat bicara soal rencana buruh menggelar mogok nasional terkait pengesahan RUU Ciptaker. Ida meminta para buruh memikirkan ulang rencana tersebut. Politisi PKB itu mengklaim pemerintah sudah banyak mengakomodir aspirasi buruh di dalam UU Ciptaker.

Terkait aturan PKWT, outsourcing dan syarat PHK yang dipersoalkan, kata Ida, semua masih mengacu pada UU lama. Sedangkan soal upah juga masih mengakomodir adanya UMK.

“Jika teman-teman ingin 100 persen diakomodir, itu tidak mungkin. Namun bacalah hasilnya. akan terlihat bahwa keberpihakan kami terang benderang,” kata Ida, seraya mengingatkan bahaya berkerumun di tengah pandemi Covid-19.

“Jangan ambil rIsiko membahayakan nyawa kalian, istri, suami dan anak-anak di rumah. Mereka wajib kita jaga agar tetap sehat,” pintanya. (SAR)

Komentar

News Feed